Grammaire de l'animéité
Rumusan yang digunakan penerjemah Robin Wall Kimmerer untuk menerjemahkan frasa Inggris *« grammar of animacy »*. Dalam bahasa Potawatomi—bahasa Anishinaabe dari masa kecil sang penulis yang telah hilang—bahasa itu sendiri membagi makhluk menjadi *bernyawa* dan *tak bernyawa*, serta memasukkan jauh lebih banyak hal ke dalam kategori *bernyawa* ketimbang manusia: tumbuhan, batu, air, gunung. Bukanlah si pembicara yang memilih untuk memperlakukan pohon sebagai subjek; struktur bahasa-lah yang memaksanya. Ketika bahasa Inggris—dan bahasa Prancis—hanya memiliki *« itu »* untuk menyebut yang non-manusia, bahasa Potawatomi mengkonjugasikan yang hidup layaknya seorang *persona*.
Un professeur de langue de ma connaissance m’a expliqué que la grammaire reflète la façon dont nous établissons nos relations. Une grammaire de l’animéité nous inciterait peut-être à repenser nos modes de vie et notre rapport au monde.
Kata kunci di sini adalah grammar. Kimmerer tidak mengatakan bahwa kita seharusnya berbicara tentang pohon secara puitis; ia hanya mencatat bahwa bahasa leluhurnya sudah melakukannya, tanpa disengaja. Perbedaan antara benda hidup dan benda mati tertanam dalam konjugasi, bukan dalam bakat penyair. “Semuanya soal kata ganti,” tulisnya: menyebut maple sebagai seseorang alih-alih sesuatu, bukanlah gaya bahasa, melainkan aturan bahasa yang menentukan sejak awal apakah ia subjek atau objek.
Persoalannya bersifat moral sekaligus linguistik. Ketika kita menyebut pohon sebagai sesuatu, kata Kimmerer, “kita menjadikannya objek; kita membebaskan diri dari tanggung jawab moral terhadapnya.” Carla, seorang mahasiswi, keberatan bahwa menyebutnya sebagai pribadi adalah antropomorfisme—dosa biolog. Namun animacy tidak memproyeksikan sifat manusia ke maple: ia mengakui bahwa maple adalah makhluk, tanpa mereduksinya menjadi “manusia berbulu.”
Di sinilah perbedaan yang menjadi inti pembahasan. Tata bahasa animacy bukanlah personifikasi puitis. Personifikasi adalah hiasan yang bisa ditambahkan atau dihilangkan sesuka hati; ia bisa diabaikan. Sementara tata bahasa, ia mengikat: ia ada dalam bahasa sebelum ada dalam ujaran. Seperti puhpowee atau kené, ia membuka bagian realitas yang selama ini tertutup dalam bahasa kita—bukan karena gaya bahasa, melainkan karena strukturnya sendiri.