Como en un panal de avispas
expression du relator shawi ; « comme dans un nid de guêpes »
Untuk menggambarkan bentuk dunia, orang Shawi di Amazon Peru tidak pertama-tama menggunakan peta atau langit: mereka mengatakan bahwa *el mundo es ovalado como el panal de las avispas*, dunia itu oval seperti sarang tawon. Gambaran ini bukan sekadar hiasan. Sarang tawon itu tertutup, berongga-rongga, penuh sel yang saling terhubung; begitu pula dunia Shawi adalah sebuah ruang tertutup, diselimuti lapisan kebiruan raksasa yang terbuat dari "tanah" matahari, di mana setiap ruang—air, bawah tanah, hujan, angin, bulan, matahari, orang mati—adalah sel yang dihuni, masing-masing memiliki "ibu" (*a'shin*). Menghuni dunia, bagi orang Shawi, berarti menyadari diri berada dalam salah satu sel dari tubuh yang sama dan penuh penghuni. Sarang tawon bukan perbandingan puitis: ini adalah model kosmologi—sebuah geometri dunia ≠ metafora hiasan.
Los indígenas shawi creemos que el mundo es ovalado como el panal de las avispas y que está cubierto por una inmensa capa azulada, hecha de “tierra” de sol, dentro de la cual se mueven y se trasladan la luna, el sol y las estrellas.
Berikut terjemahan teks tersebut ke dalam bahasa Indonesia yang idiomatik, dengan mempertahankan format Markdown, tautan, istilah transliterasi, dan simbol:
Kata ini bukanlah kata dalam bahasa Shawi, melainkan sebuah gambaran yang digunakan oleh pencerita Nahwiri Rafael Chanchari Pizuri dalam bahasa Spanyol untuk menggambarkan, dalam sekali ucap, bentuk utuh dunia: como el panal de las avispas, seperti sarang tawon. Ia mewarisinya dari kakek-neneknya, yang memanggilnya ke luar pada malam-malam bulan purnama untuk bercerita tentang dunia. “Itulah sebabnya kita tahu bagaimana wujud dunia,” ujarnya.
Apa yang disampaikan oleh gambaran ini, seorang Barat akan salah paham jika hanya menganggapnya sebagai perumpamaan indah belaka. Sarang tawon tidaklah bulat: ia ovalado, berbentuk oval, dan yang terutama, ia tertutup. Ada selubung yang membungkusnya—di sini, una inmensa capa azulada, hecha de « tierra » de sol, lapisan kebiruan tak terkira yang terbuat dari “tanah” matahari, tempat bulan, matahari, dan bintang-bintang beredar. Di dalamnya, bumi diselimuti air. Jadi, dunia Shawi adalah sebuah ruang terbatas, tertahan dari atas, bukan ruang terbuka yang mengembang ke segala arah.
Dan seperti sarang tawon, ia berongga-rongga. Kisah Chanchari adalah kunjungan sabar ke sel-sel itu: ruang di dalam bumi tempat manusia tanpa anus hidup; ruang air, tanah, hujan, angin, bulan, matahari; ruang orang-orang yang telah mati. Setiap rongga memiliki “ibu”-nya, a’shin-nya: ibu laguna, ibu sungai, ibu gunung, ibu hujan. Tak ada rongga yang kosong. Dunia bukanlah panggung tempat manusia menjadi satu-satunya penghuni; ia adalah tubuh utuh, terbagi-bagi dan berpenghuni, di mana manusia menempati satu petak di antara petak-petak lain yang dihuni makhluk lain.
Dari sanalah cara mereka menghuni dunia. Kita tidak mengambil pohon, buah, atau hewan dari monte tanpa meminta izin kepada roh yang menjaganya; jika tidak, “ia akan mencelakaimu.” Menyadari diri berada dalam sebuah rongga berarti menyadari diri sebagai tetangga—dan karenanya, berhutang budi. Hubungan kekerabatan ini antara sesama makhluk dalam dunia yang tertutup serupa dengan animisme yang disebut oleh suku-suku Amazon lainnya dengan caranya masing-masing; ia menggemakan gagasan dunia-lebih-dari-manusia di mana manusia hanyalah satu pribadi di antara pribadi-pribadi lain.
Namun, perlu diwaspadai dua kesalahan penafsiran. Sarang tawon Shawi bukanlah urihi suku Yanomami, “bumi-hutan” yang bernapas dan bisa sakit: gambaran Shawi pertama-tama berbicara tentang bentuk, geometri dunia—tertutup, oval, terbagi-bagi—sedangkan urihi berbicara tentang makhluk hidup yang harus dilindungi. Dan ini bukanlah metafora hiasan, jenis yang ditambahkan sekadar untuk memperindah: ia adalah model yang menjadi dasar cara dunia dipahami, dijelajahi, dan dihormati. Kita tidak tinggal dekat sarang tawon. Kita tinggal di dalamnya.