Cupiditas
Hasrat menurut Spinoza: bukan kekosongan yang harus diisi atau keburukan yang harus dibasmi, melainkan hakikat manusia itu sendiri. Ia adalah selera—upaya setiap makhluk untuk bertahan dalam keberadaannya—yang menjadi sadar akan dirinya. Spinoza membalik tatanan yang lazim: kita tak menginginkan sesuatu karena menganggapnya baik, melainkan menganggapnya baik *karena* kita menginginkannya. Maka, perbudakan bukan terletak pada hasrat itu sendiri, melainkan pada hasrat pasif, yang lahir dari gagasan-gagasan yang tak memadai; sedangkan hasrat yang lahir dari *Akal*, ia *« tak mungkin berlebihan »*.
Le Désir est l’essence même de l’homme en tant qu’elle est conçue comme déterminée à faire quelque chose par une affection quelconque donnée en elle.
Berikut terjemahan teks tersebut ke dalam bahasa Indonesia yang idiomatik, dengan mempertahankan format Markdown, tautan, istilah transliterasi, dan simbol:
Bahasa Latin cupiditas mengungkapkan hasrat, keinginan, kadang keserakahan—sebuah kata yang sarat makna, berpihak pada ketiadaan dan ketamakan. Spinoza mengambilnya untuk mengubahnya menjadi sesuatu yang sama sekali berbeda: istilah teknis tanpa penghakiman. Di sini, hasrat adalah appétit (yakni conatus yang terkait dengan jiwa dan raga) «dengan kesadaran akan dirinya sendiri»: dorongan yang membuat suatu makhluk berupaya bertahan dalam keberadaannya, dan menyadari dorongan itu sendiri. Jauh dari kesalahan, hasrat justru merupakan hal paling khas manusia.
Dari sinilah pembalikan terkenal itu muncul: kita tidak menginginkan apa yang sebelumnya kita nilai baik; kita menilai baik apa yang sudah kita upayakan. Hasrat mendahului penilaian tentang kebaikan, bukan mengikutinya. Karena itu, Spinoza tidak pernah meminta kita memadamkan hasrat—itu sama saja dengan menghancurkan manusia bersamanya. Yang memperbudak bukanlah hasrat itu sendiri, melainkan bentuknya yang pasif: hasrat yang terbawa oleh sebab-sebab luar yang tak kita pahami, yang menyeret manusia «ke berbagai arah». Berlawanan dengan itu adalah hasrat yang lahir dari Akal, yang mengalir semata dari kekuatan memahami, dan yang—hal yang mengejutkan—«tidak mungkin berlebihan».
Cupiditas ≠ taṇhā. Dalam Buddhisme, ketamakan adalah akar yang harus dicabut: lenyapnya ia adalah tujuan jalan. Sementara hasrat menurut Spinoza adalah getah kehidupan itu sendiri, yang tak bisa diputus tanpa kehilangan diri, dan hanya bisa dibebaskan dengan memahaminya. Dua diagnosis yang berlawanan atas pengalaman yang sama: yang satu menginginkan akhir dahaga, yang lain mengubahnya.