Titik Tengah Antara Ketiadaan dan Kesemestaan
Pascal menemukan manusia yang tersesat di antara dua ketakterhinggaan, tanpa pijakan apa pun; Laozi melihatnya selaras dengan apa yang tak pernah dinamainya. Dua cara untuk berhenti menganggap diri sebagai ukuran segala.
Membawa segala sesuatu ke ukuran manusia: itulah gerak naluriah akal, begitu lazim hingga tak terasa saat terjadi. Kita mengukur jarak dengan langkah, waktu dengan umur, ketinggian dengan pandangan. Sedikit demi sedikit, tanpa pernah memutuskannya, kita menjadikan diri sebagai titik acuan—pusat diam yang mengatur segala, dan tolok ukur yang mengukur semesta.
Pascal meruntuhkan pusat itu dalam satu halaman. Ia mengajak mata memandang ke ketakterhinggaan, lalu membalikkan pandangan ke yang teramat kecil; dan di antara dua jurang yang sama-sama membuat pandangan tersesat, ia mengajukan pertanyaan yang mencabut pijakan.
Ketiadaan di hadapan yang takterhingga, kesemestaan di hadapan ketiadaan, titik tengah antara tiada dan segala.
Manusia bukanlah titik tetap: ia adalah titik tengah, terentang di antara dua jurang yang tak satu pun dapat dijangkaunya. Inilah ketaksetimpalan—bukan karena ia kecil, melainkan karena tak ada ukuran yang menyamakannya dengan apa yang melingkupinya. Prasangkanya untuk memahami awal dan akhir segala hal tak sebanding dengan posisinya. Dunia yang semula dianggap sebagai pusat ternyata adalah “bola takterhingga yang pusatnya di mana-mana, kelilingnya tiada”—tak ada pusat istimewa, maka tak ada tempat bagi yang mengira dirinya pusat.
Dan penemuan itu, bagi Pascal, tak menenangkan. Ia menggetarkan. Manusia yang memandang dirinya demikian “akan ketakutan pada dirinya sendiri”; ia sia-sia mencari pijakan—“kita membara dalam hasrat menemukan landasan kokoh […] untuk membangun menara yang menjulang takterhingga; namun seluruh fondasinya retak.” Tak ada yang bertahan di bawah kakinya: “Tiada yang berhenti bagi kita.” Pada akhirnya, yang tersisa hanyalah keheningan, tapi keheningan yang gemetar, di mana rasa ingin tahu berbalik menjadi ketakutan: manusia akan “lebih condong merenungkannya dalam diam daripada mencarinya dengan kesombongan.”
Suara lain bertemu batas yang sama—akal tak mampu menampung apa yang melampauinya—dan tak gentar. Ia menyebut batas itu dan bersandar padanya. Di pangkal segala, Tao Te King menempatkan “sesuatu yang tak jelas” sebelum langit dan bumi, dan pengakuan itu datang tanpa kepedihan: “Aku tak tahu namanya.” Dari ketidaktahuan ini, Laozi tak menjadikannya kekalahan; ia menjadikannya awal ketepatan.
Tionghoa人法地,地法天,天法道,道法自然。
bahasa Indonesia Manusia meneladani bumi; bumi meneladani langit; langit meneladani Tao; Tao meneladani kodratnya.
Manusia menempati kedudukannya, bahkan kedudukan yang tinggi: “Di dunia, ada empat hal besar, dan raja adalah salah satunya.” Ia memiliki kebesarannya—tapi bukan dengan mengukur atau menamai prinsip. Kebesarannya terletak pada menyesuaikan diri dengan yang lebih besar: manusia meneladani bumi, bumi meneladani langit, langit meneladani Tao, dan Tao meneladani kodratnya sendiri, yang tak lagi meneladani apa pun di atasnya. Rantai ini tak menjadikan manusia puncak atau pusat; ia memberinya tempat, asalkan ia tunduk pada apa yang melampauinya. Dan keselarasan ini bukanlah kejatuhan: ia adalah ketenangan itu sendiri.
Jangan campuradukkan kedua sikap itu. Bagi Pascal, bukan menjadi ukuran adalah luka: manusia yang tercerabut dari pusat menemukan dirinya tanpa pijakan, dan tanah yang dicarinya tak kunjung ditemukan di dunia. Bagi Laozi, bukan menjadi ukuran adalah pembebasan: tak menamai prinsip, tak meninggikan diri di atasnya, justru itulah cara menemukan tempat yang tepat dalam tatanan kebesaran. Yang satu gemetar di hadapan jurang; yang lain selaras tanpa usaha dengan yang takterhingga. Batas yang sama membuka pada yang satu kegelisahan, pada yang lain kedamaian—dan mengkhianati keduanya jika menganggap yang satu sama dengan yang lain.
Apa yang Pascal sebut “ketaksetimpalan manusia”?
Itulah ketiadaan ukuran yang sama antara manusia dan apa yang melingkupinya. Terjepit di antara yang takterhingga besar dan takterhingga kecil, ia tak dapat menjangkau keduanya: ia tetap “titik tengah antara tiada dan segala.” Akalnya, yang terbiasa dengan ukuran sedang, gagal memahami ekstrem yang mengurungnya dari segala sisi.
Namun kedua jalan itu bertemu di satu ambang. Keduanya menggeser manusia dari pusat dan mencabut gelar yang sama: menjadi ukuran segala. Pascal mengusirnya dari posisi hakim atas ekstrem; Laozi, dari posisi penama prinsip. Pada ujung kedua jalan, ada penolakan yang sama untuk menampung apa yang menampung kita—“merenung dalam diam” alih-alih meraih, atau cukup puas dengan tidak mengetahui nama. Yang satu gemetar, yang lain menerima; tapi keduanya berhenti mengira diri sebagai tolok ukur realitas. Dan dari penyimpangan ini, tak ada yang mengecilkan manusia pada keduanya: yang muncul adalah ketenangan bagi yang tak lagi harus menanggung ketakterukuran yang bukan miliknya.
Maka tinggalah dunia, kembali pada keluasan tanpa tepi, dan manusia pada kedudukannya—tak di puncak, tak di pusat, juga tak absen di mana pun. Gunung-gunung lenyap dalam kabut tanpa ujung yang terlihat; dan barangkali di situlah, ketika kita berhenti menuntut ukurannya, kita mulai melihatnya.
Sumber yang dikutip
- Blaise Pascal, Pensées, ed. Wikisource, éd. Brunschvicg (1897).
- Lao-Tseu, Tao Te King, ed. Imprimerie royale, 1842 (Wikisource), alih bahasa Stanislas Julien.