Hidup dalam Kepala Orang Lain
Apa yang kita wakili—martabat, kedudukan, kejayaan—hanya bersemayam dalam kesadaran orang lain. Schopenhauer dan Epiktetos menolak menitipkan ketenangan mereka di sana, namun tak kembali ke ruang dalam yang sama.
Sebuah pujian, dan hari pun bercahaya; sebuah tatapan meremehkan, dan hari pun muram—padahal tak ada yang berubah pada diri kita. Schopenhauer menggambarkan mekanisme ini dengan ironi seorang naturalis: sejelas kucing yang mulai mendengkur saat punggungnya dibelai, begitu pula wajah manusia menampakkan ekstase manis saat dipuji. Yang disentuh atau dilukai di sini bukanlah tubuh, bukan harta, melainkan sesuatu yang ketiga, lebih sulit dilokalisasi: apa yang kita wakili.
Apa yang kita wakili, atau dengan kata lain, keberadaan kita dalam pandangan orang lain, umumnya terlalu dihargai karena kelemahan tertentu dalam kodrat kita, padahal sedikit renungan saja sudah cukup untuk menyadari bahwa hal itu, pada dasarnya, tak memiliki arti apa-apa bagi kebahagiaan kita.
Kekuatan pengamatan ini terletak pada pertanyaan tentang tempat. Di manakah “keberadaan” yang begitu mengikat kita itu? Bukan pada diri kita. “Tempat segala sesuatu yang kita perankan bagi orang lain adalah kesadaran mereka,” tulis Schopenhauer; dan citra-citra tentang kita, gagasan-gagasan yang terkait dengannya, adalah hal-hal yang “secara langsung, sama sekali tidak ada bagi kita.” Prestise adalah makhluk yang bersemayam dalam kepala orang lain. Kita mengejarnya sebagai kebaikan, padahal ia hanyalah bayang-bayang yang kita pelihara di tempat yang tak pernah kita jejaki. Dari sinilah rumusan paling telanjangnya: setiap orang “hidup pertama-tama dan secara nyata dalam kulitnya sendiri, bukan dalam opini orang lain.” Mengukur apa yang kita “adalah pada diri sendiri dan oleh diri sendiri” dengan apa yang kita “hanya tampakkan di mata orang lain,” menurutnya, sudah berarti keluar dari ilusi.
Schopenhauer tak berhenti pada pengamatan ilusi; ia menimbangnya. Memberi nilai begitu besar pada opini, katanya, adalah “takhayul yang merajalela,” semakin kokoh karena kepala tempat citra kita bersemayam jarang setara dengan apa yang kita titipkan di sana: seharusnya lebih sedikit hormat, mengingat “kesuperfisialan dan kesia-siaan pikiran” yang mengisi kebanyakan benak. Obatnya di sini adalah soal penilaian yang tepat: mengembalikan kebaikan semu pada bobotnya yang ringkih, dan memindahkan penghargaan pada apa yang, setidaknya, milik kita sendiri—kesehatan, akal budi, isi kesadaran kita sendiri.
Haruskah kita menghina apa yang orang lain pikirkan tentang kita?
Baik Schopenhauer maupun Epiktetos tidak menyarankan penghinaan. Keduanya hanya mencatat bahwa tempat ketenangan kita tak mungkin berada di ruang yang tak kita huni. Bagi yang satu, apa yang kita wakili hampir tak memiliki wujud bagi kita; bagi yang lain, reputasi bukanlah urusan kita. Dalam kedua kasus, ia asing bagi kita.
Epiktetos tidak berargumen dari ketiadaan hal itu, melainkan dari kepemilikannya. Enkheiridion dibuka dengan satu pembagian, dan segalanya mengalir darinya.
Yang bergantung pada kita adalah opini, kehendak, hasrat, keengganan: singkatnya, segala yang merupakan karya kita. Yang tidak bergantung pada kita adalah tubuh, harta, reputasi, kedudukan: singkatnya, segala yang bukan karya kita.
Reputasi jatuh pada sisi yang salah dalam pembagian itu. Bukan karena ia hina: ia hanya termasuk di antara hal-hal yang “tak berdaya, budak, terhalang, asing bagi kita.” Melekatkan hasrat padanya berarti menitipkan ketenangan pada apa yang akan dilakukan atau dipikirkan orang lain. Dari situlah nasihat yang mengagetkan: “Jika kau ingin maju dalam kebijaksanaan, bersabarlah untuk dianggap bodoh dan dungu dalam hal-hal luar.” Bersedia kehilangan segala penghargaan, jika perlu, demi tak melepaskan apa yang benar-benar milik kita—kemampuan untuk menilai dan berkehendak yang disebut Epiktetos sebagai proairesis, dan yang dianggapnya sebagai satu-satunya tempat yang tak bisa dimasuki siapa pun tanpa izin kita.
Sebelum membandingkan kedua sikap ini, harus dilihat bahwa keduanya tidak lahir dari gerak yang sama. Schopenhauer memberikan penilaian atas nilai opini: bobotnya ringan, karena ia hanya hidup dalam kepala-kepala yang dangkal. Epiktetos, sebaliknya, tidak menilai apakah reputasi berharga—ia bisa saja bernilai; ia hanya mengamati bahwa reputasi bukan milik kita. Dan ruang dalam tempat masing-masing mengundurkan diri pun berbeda. Apa yang masih Schopenhauer masukkan sebagai milik kita—tubuh, kesehatan, kecerdasan—Epiktetos letakkan tegas di luar, di sisi yang tak bergantung pada kita. Pada ujung pengunduran diri, yang satu menemukan kembali segala yang ia ada: kodratnya, temperamennya, apa yang memenuhi kesadarannya. Yang lain hanya menyisakan kemampuan kosong, apa yang ia kehendaki dan nilai, bahkan tubuh pun dilucuti. Dua ruang dalam yang tak setara di balik pintu yang sama.
Namun pintunya sama. Schopenhauer khawatir kita menjadi “budak opini dan perasaan orang lain”; Epiktetos menyarankan untuk tak menginginkan apa pun yang bergantung pada orang lain, “agar tidak menjadi budak orang lain.” Kata yang sama, di bawah dua pena yang terpisah jauh: budak. Dan ketenangan yang dicari masing-masing—bagi Schopenhauer “ketenangan jiwa” dan kemandirian, bagi Epiktetos “ketenangan jiwaku”—direbut kembali di ambang yang sama: jangan menitipkan kedamaian pada kesadaran yang tak kita huni. Mereka mendorong pintu yang sama; di baliknya, mereka tak memasuki ruangan yang sama. Inilah yang mempertemukan dua dan satu—satu ambang, dua kediaman.
Pujian dan penghinaan, tulis Schopenhauer, “tergantung pada benang yang sama.” Memutus benang itu bukanlah meremehkan pandangan orang lain; melainkan berhenti menyewakan kamar tempat kita hidup.
À lire aussi
- Ce qui dépend de nousÉpictète, esclave, partage le monde en deux. Tchouang-tseu demande qui trace la ligne.
- La chose sous le nomMarc Aurèle dépouille les choses du prestige que leur prête le nom ; le désert se fait sourd à la louange comme à l'injure. Deux manières d'ôter le mot pour atteindre ce qui est.
- Le malheur d’une chambrePascal fait de l’agitation une fuite ; le désert fait de l’immobilité un remède — deux lectures de l’homme qui ne sait pas demeurer en repos.
- Petit devant l’immenseLa même vastitude apaise Marc Aurèle et terrasse Arjuna — deux manières de n’être plus le centre.
Sumber yang dikutip
- Arthur Schopenhauer, Aphorismes sur la sagesse dans la vie, ed. Librairie Germer Baillière et Cie, 1880 (p. 63-147), alih bahasa Jean-Alexandre Cantacuzène.
- Épictète, Manuel, ed. Librairie Ch. Delagrave, 1875, alih bahasa Jean-Marie Guyau.