Sukacita sebagai Kekuatan Perlawanan

Hasrat melawan kepunahan atau hasrat sebagai penyerahan kepada Yang Esa?

Sukacita sebagai Kekuatan Perlawanan
Nicolas Poussin — Orion Buta Mencari Matahari Terbit (1658). Metropolitan Museum of Art, CC0.

Sukacita bukanlah keadaan pasif. Ia mengandung dinamika, sebuah kekuatan yang diukur dari kemampuannya untuk melawan atau melebur. Dua suara saling menjawab di sini, tanpa bercampur: suara penegasan yang merangkul yang jamak, dan suara kepunahan yang menyerap segala kejamakan ke dalam Yang Esa. Kedua suara ini tidak langsung berseberangan; mula-mula mereka berkembang sebagai dua usulan yang berbeda, dua cara memikirkan hasrat dan hubungannya dengan kekuatan.

Sukacita sebagai penegasan vital

Deleuze mengajukan sukacita yang lahir dari pengulangan abadi, bukan sebagai pengulangan yang sama, melainkan sebagai transmutasi penolakan menjadi kekuatan afirmatif. Kehendak untuk berkuasa, jauh dari sekadar dominasi, di sini menjadi kekuatan yang mengucap ya pada kehidupan dalam totalitasnya, termasuk aspek-aspeknya yang paling menyakitkan. Penolakan bukan lagi penolakan, melainkan inklusi: ia berubah menjadi penegasan atas penolakan itu sendiri.

Melalui dan dalam pengulangan abadi, penolakan sebagai kualitas kehendak untuk berkuasa berubah menjadi penegasan, ia menjadi penegasan atas penolakan itu sendiri, ia menjadi kekuatan untuk menegaskan, kekuatan afirmatif.

Gilles Deleuze, Nietzsche et la philosophie  — ed. menurut terjemahan Prancis, alih bahasa viasophia

Sukacita ini bukanlah penyerahan kepada tatanan yang telah ditetapkan. Ia imanen, artinya ia muncul dari gerak kehidupan itu sendiri, tanpa rujukan pada sesuatu di luarnya. Yang jamak bukanlah hambatan yang harus diatasi, melainkan bahan baku penegasan itu sendiri. Perlawanan, di sini, bukanlah melawan sesuatu, melainkan bertahan dalam tindakan mengucap ya, bahkan ketika ya itu mencakup apa yang menolak.

Sukacita sebagai kepunahan hasrat

Ibnu Arabi, di sisi lain, menempatkan sukacita dalam ranah yang berbeda: ranah penyerapan hasrat ke dalam Kesatuan Ilahi. Kejamakan tidak disangkal, melainkan larut dalam kesadaran mutlak di mana segala objek telah terkandung, secara laten, dalam Subjek yang tunggal. Hasrat, di sini, bukanlah kekuatan yang harus ditegaskan, melainkan ketegangan yang harus dilampaui. Sukacita datang ketika subjek sirna di hadapan Yang Esa, ketika polarisasi antara diri dan yang lain berhenti.

ar
bahasa Indonesia

mempertahankan ketakterpisahkan mutlak Kebenaran-Nya. Ketegangan ini memang ketegangan antara polarisasi dan non-polarisasi, antara kesadaran mutlak yang secara laten dan esensial mengandung segala objek dalam Diri-Nya dan menjadi tak terbatas yang menyerap segala subjek ke dalam proses aktualisasi Diri yang tak berkesudahan.

Ibn ʿArabî, Les Chatons des sagesses (Fuṣûṣ al-Ḥikam)  — ed. menurut terjemahan Prancis" maison nomLangSource="Arab

Perlawanan, dalam perspektif ini, bukanlah perjuangan melawan kepunahan, melainkan penerimaan atasnya. Hasrat tidak lenyap karena paksaan, melainkan karena pengakuan akan sifatnya yang ilusif di hadapan Yang Esa. Sukacita bukanlah penegasan atas suatu proses menjadi yang tak terbatas, melainkan kedamaian yang mengikuti pelarutan segala pertentangan.

Ketegangan sebagai usulan

Kedua suara ini tidak bertemu dalam kompromi, melainkan dalam ketegangan yang dipertahankan. Di satu sisi, sukacita yang ditegaskan dalam yang jamak; di sisi lain, sukacita yang terwujud dalam Yang Esa. Yang satu melihat hasrat sebagai kekuatan yang harus diwujudkan, yang lain sebagai ilusi yang harus dilarutkan.

Namun, suatu pertemuan muncul, bukan dalam sintesis, melainkan dalam pertanyaan bersama: bagaimana sukacita dapat sekaligus menjadi perlawanan dan penyerahan? Bagi Deleuze, melawan berarti menegaskan kehidupan dalam kejamakannya, bahkan ketika kejamakan itu mencakup penolakan. Bagi Ibnu Arabi, melawan berarti menerima untuk diserap oleh apa yang melampaui segala polaritas.

Sukacita, karenanya, bukanlah semata penegasan atau kepunahan. Ia adalah apa yang bertahan di antara keduanya, apa yang berdiri di perbatasan yang jamak dan Yang Esa, tanpa memilih secara definitif. Ia mengajukan renungan tentang batas-batas hasrat: sejauh mana kita dapat menegaskan tanpa kehilangan diri? Sejauh mana kita dapat kehilangan diri tanpa berhenti menegaskan?

Sumber yang dikutip

  • Gilles Deleuze, Nietzsche et la philosophie, ed. .
  • Ibn ʿArabî, Les Chatons des sagesses (Fuṣûṣ al-Ḥikam), ed. .