Terjerumus hingga ke Materi
Simone Weil dan Boethius: kekuatan tidak meninggalkan siapa pun utuh, baik yang ditindasnya maupun yang mengira memilikinya.
Pikiran orang yang tertimpa musibah tak lagi mampu berbalik ke masa lalu, juga tak sanggup menjangkau masa depan: yang tersisa hanyalah momen yang membebani, dan momen itu cukup untuk menghancurkannya. Simone Weil menempatkan titik ini dengan tepat, sangat rendah, dalam tangga penderitaan.
Makhluk yang tak sanggup memikirkan masa lalu maupun masa depan: ia telah terjerumus hingga ke materi.
Kata itu bukan dipilih sembarangan. Weil baru saja menyebut apa yang dilakukan waktu terhadap mereka yang digenggam penderitaan ekstrem: “Pecahnya waktu bagi penjahat dan pelacur; demikian pula bagi budak. Itulah ciri penderitaan.” Makhluk yang berpikir berada dalam durasi—ia mengingat, menanti, memproyeksikan diri. Merampas itu bukan sekadar menyakiti: itu merampas apa yang membedakannya dari benda yang tergeletak dalam sekejap. “Waktu melakukan kekerasan; itu satu-satunya kekerasan,” tulisnya lagi. Tak perlu algojo yang tampak: cukup dengan menjadikan masa kini sebagai satu-satunya tempat yang bisa ditempati, dan seseorang sudah, tanpa pukulan apa pun, diturunkan derajatnya menjadi benda.
Apa yang Weil amati dari sisi penderitaan, ia temukan kembali, secara simetris, dari sisi kejahatan—dalam bab sebelum itu.
Setiap kejahatan adalah pemindahan keburukan dari pelaku kepada yang menanggungnya.
Berbuat jahat tak pernah merupakan tindakan penciptaan: “manusia tak diberi kuasa untuk mencipta,” dan keburukan yang ditimpakan tak berasal dari mana-mana—ia hanya dipindahkan. Namun perpindahan itu tak mengosongkan wadah asalnya:
Ketika keburukan dipindahkan, keburukan itu tidak berkurang, melainkan bertambah pada diri yang menjadi sumbernya.
Yang memukul tak melepaskan beban: ia justru memberatkan, dalam gerak yang sama, apa yang telah dipikulnya. Kekuatan, bagi Weil, tak mengenal sisi yang luput dari kerusakan—baik materi tempat ia menjerumuskan yang tertimpa, maupun sumber yang, dalam menjalankannya, semakin membesar.
Apa yang terjadi pada Simone Weil dengan mereka yang menggunakan kekuatan?
Ia tak melepaskan apa yang ditimpakannya: ia malah menambahkannya pada dirinya sendiri. Weil menggambarkan kejahatan sebagai perpindahan keburukan dari pelaku kepada yang menanggung—tetapi perpindahan itu, alih-alih membersihkan pelaku, malah memperparah korupsi yang ia kira telah terbuang.
Sepuluh abad sebelum Weil, seorang penulis lain telah sampai pada posisi serupa, melalui jalan yang sama sekali berbeda—bukti logis, bukan pengamatan.
Mereka mampu berbuat jahat, dan mereka tak akan mampu jika masih memiliki kekuatan orang baik […] kemampuan berbuat jahat tak ada hubungannya dengan kekuatan sejati.
Boethius berpikir sebagai ahli geometri. Setiap kekuatan sejati mengarah pada kebaikan sebagai tujuannya; keburukan, karena bukan apa-apa—kekurangan wujud, bukan substansi—hanya mampu melakukannya berarti tak mampu apa-apa. Tiran yang mendapatkan semua yang diinginkannya justru gagal dalam satu-satunya hal yang tak disadarinya:
Orang jahat hanya mampu berbuat jahat, maka harus disimpulkan bahwa mereka tak mampu apa-apa.
Ketidakberdayaan orang jahat ini bukan penghiburan yang dibuat-buat setelahnya; ia terbukti, kata Boethius, tepat saat kekuatan meraih kemenangan.
Kedua suara itu tak berbicara dalam bahasa yang sama. Weil menggambarkan mekanisme: keburukan beredar seperti materi yang harus ditempatkan di suatu tempat, dan jika ditolak oleh jiwa murni, ia akan bersarang dalam jiwa yang menyebarkannya—itulah sebabnya ia mencatat bahwa hanya penderitaan Kristus yang mampu menampung kekerasan tanpa meneruskannya, dengan mengubahnya menjadi kesakitan murni. Boethius, sebaliknya, tak menggambarkan apa pun: ia menyimpulkan. Kemampuan berbuat jahat bukanlah kekuatan yang berkurang, melainkan kekuatan yang tak ada, berdasarkan definisi tentang apa yang menjadi tujuan setiap kekuatan sejati. Yang satu melihat keburukan menyebar dan membesar; yang lain melihat kotak kosong dan membuktikan bahwa ia selalu kosong.
Jalan mereka berbeda. Namun keduanya sampai pada penolakan yang sama: yang memukul tak terbebas sedikit pun dari apa yang ditimpakannya. Baik oleh materi tempat ia menjerumuskan korbannya, maupun oleh kemenangan yang ia kira diraih—keduanya, dengan caranya masing-masing, menunjukkan bahwa ia terperangkap dalam gerakannya sendiri.
Tersisa pertanyaan yang tergeletak di tanah, yang tak dijawab oleh kedua suara itu untuk kita: siapa sebenarnya yang telah diubah menjadi materi oleh kekuatan—yang terbaring di tanah, atau tangan yang masih mengira menggenggam sesuatu?
Sumber yang dikutip
- Simone Weil, La Pesanteur et la Grâce, ed. Librairie Plon, 1948 (texte établi par Gustave Thibon).
- Boèce, La Consolation de la philosophie, ed. Hachette, 1861, alih bahasa Louis Judicis de Mirandol.