Kognisi sebagai Tenunan: Kesalahan Biner Menurut Tyson Yunkaporta

Berpikir bersama makhluk hidup, melawan kategori yang melukai

Kognisi sebagai Tenunan: Kesalahan Biner Menurut Tyson Yunkaporta
Durand, Elias; Hilgard, Theod. C. — Laporan Botani (Piring II) BHL32416638. Wikimedia Commons, CC0.
M

Menurut Tyson Yunkaporta, pemikiran Barat terperangkap dalam logika yang memisahkan, mengklasifikasi, dan mempertentangkan. Pendekatan ini, yang didasari kategori biner, mereduksi kompleksitas makhluk hidup menjadi dualitas yang menyederhanakan: alam/budaya, subjek/objek, rasional/irasional. Padahal, cara berpikir ini mengabaikan kebenaran yang lebih dalam: pengetahuan bukanlah kumpulan informasi yang ditimbun, melainkan proses dinamis yang lahir dari pertukaran antar makhluk.

Landasan Sand Talk membedakan dua bentuk pengetahuan. Yang pertama adalah kejelasan batin, wahyu yang muncul dari pengalaman langsung terhadap dunia. Yang kedua adalah sekumpulan data yang diperoleh, ditransmisikan, atau dicatat. Perbedaan ini bukan sekadar detail: ia menunjukkan bahwa pengetahuan sejati tidak terbatas pada pernyataan yang membeku, melainkan terwujud dalam interaksi. Menurut Tyson Yunkaporta, kata-kata sendiri mengkhianati ketegangan ini. Istilah bahasa Inggris knowledge, misalnya, sering diterjemahkan sebagai “pengetahuan” atau “ilmu” tergantung konteks, seolah-olah kedua konsep itu dapat dipertukarkan. Namun, kesetaraan ini menyembunyikan perbedaan mendasar: yang satu bersumber dari pengalaman hidup, yang lain dari transmisi mekanis.

Namun, demi kejelasan pembahasan, terjemahan terkadang akan memberikan makna knowledge (pengetahuan) sebagai “ilmu” atau “pengetahuan”.

Tyson Yunkaporta, Sand Talk , buku Sand Talk  — ed. berdasarkan terjemahan bahasa Prancis oleh Anne Delmas, Éditions Véga (Guy Trédaniel), 2021, alih bahasa viasophia

Jebakan Pola Berulang

Pemikiran biner bertumpu pada patterns, model yang berulang dan mengukuhkan diri sebagai kerangka tak terelakkan. Menurut Tyson Yunkaporta, pola-pola ini tidaklah netral: mereka membentuk cara kita memandang realitas dengan memecahnya menjadi unit-unit terpisah, sering kali hierarkis. Sebatang pohon, misalnya, bukan lagi makhluk yang berhubungan dengan lingkungannya, melainkan “objek alam” yang dipelajari, dieksploitasi, atau dilindungi. Pendekatan ini, warisan tradisi filosofis yang mengutamakan abstraksi, menghapus ikatan yang menyatukan makhluk hidup.

Padahal, patterns ini bukan tak terhindarkan. Mereka adalah produk sejarah, pilihan budaya. Tyson Yunkaporta mencatat bahwa cara berpikir lain tetap ada, di mana pengetahuan muncul dari dialog yang berkelanjutan. Dalam perspektif ini, sebuah cerita bukan sekadar narasi, melainkan tindakan menenun: di sana benang-benang pemikiran, pengalaman, dan suara beragam dijalin. Proses ini, yang dalam landasan disebut yarning, tidaklah linier. Ia tidak mengikuti perkembangan logis, melainkan bergerak spiral, menyerap belokan, pengulangan, dan keheningan.

Kekerasan Kategori

Pemikiran biner bukan sekadar soal metode: ia adalah bentuk kekerasan. Dengan memaksakan oposisi yang kaku, ia menyingkirkan segala yang tak muat dalam kotaknya. Menurut Tyson Yunkaporta, logika ini memiliki konsekuensi nyata. Ia melegitimasi sistem dominasi, di mana makhluk—manusia maupun non-manusia—diturunkan derajatnya menjadi sumber daya atau hambatan. Ia juga menyangkal kemungkinan kognisi kolektif, di mana pengetahuan lahir dari pertukaran antar generasi, spesies, dan elemen.

Landasan menyebut komunitas-komunitas yang memilih hidup berdasarkan prinsip berbeda. Kelompok-kelompok ini, yang muncul sejak tahun 1970-an, berupaya menyelaraskan cara hidup modern dengan hukum leluhur. Keberadaan mereka sendiri menggugat gagasan bahwa pemikiran harus tunduk pada kategori yang telah ditetapkan. Menurut Tyson Yunkaporta, pengalaman mereka menunjukkan jalan lain: kognisi yang tidak memisahkan, melainkan menghubungkan.

Ajakan untuk Melepaskan

Usulan Tyson Yunkaporta bukan doktrin, melainkan ajakan untuk memikirkan ulang hubungan kita dengan pengetahuan. Ia mengisyaratkan bahwa pengetahuan bukan wilayah yang harus ditaklukkan, melainkan ruang yang dihuni bersama. Ini menuntut kita melepaskan keyakinan-keyakinan tertentu: bahwa kebenaran itu tunggal, bahwa kemajuan itu linier, bahwa oposisi itu alami.

Pendekatan ini bukan penolakan terhadap rasionalitas, melainkan kritik atas monopoli rasionalitas. Menurut Tyson Yunkaporta, pemikiran biner memiliki batas: ia tak mampu menangkap kompleksitas hubungan yang menyusun makhluk hidup. Sebaliknya, kognisi kolektif yang terbuka pada suara leluhur, non-manusia, dan generasi mendatang, menawarkan cara lain untuk memahami dunia. Ia tidak berusaha menjelaskan segalanya, melainkan mendengarkan segalanya.

Sumber yang dikutip

  • Tyson Yunkaporta, Sand Talk, ed. Éditions Véga (Guy Trédaniel), 2021 — éd. originale Text Publishing, 2019, alih bahasa Anne Delmas.