Hutan sebagai Subjek Politik: Pertahanan Spiritual Yanomami
Ketika xapiri menjadi sekutu melawan pemangsaan
Hutan Amazon bukan sekadar latar. Menurut Davi Kopenawa, ia adalah tubuh yang hidup, jaringan hubungan di mana setiap pohon, sungai, dan hembusan angin membawa suara para roh xapiri. Makhluk tak kasatmata bagi yang tak terlatih ini bukan sekadar metafora. Mereka bertindak, melindungi, dan yang terutama, melawan. Pelemahan mereka akibat penebangan atau masuknya penambang emas bukan kerusakan sampingan: itu serangan langsung terhadap kedaulatan Yanomami. Davi Kopenawa menyatakannya tanpa tedeng aling-aling: menghancurkan hutan berarti memutus perjanjian leluhur, aliansi yang melampaui manusia.
Pada tahun 1970-an, ketika jalan dan helikopter para prospektor geologi menyusup ke wilayah Yanomami, sebuah kenyataan terungkap. Orang kulit putih hanya melihat hutan sebagai cadangan sumber daya, ruang yang harus ditaklukkan. Namun bagi orang Yanomami, setiap jengkal tanah dihuni oleh kekuatan yang mengawasi. Xapiri, roh-roh perdukunan itu, bukan simbol pasif. Mereka berbicara, bertindak, dan yang terutama, mereka membela. Peran mereka bukan sekadar hiasan: mereka adalah penjaga keseimbangan di mana manusia hanyalah salah satu mata rantai. Ketika hutan terbakar atau sungai tercemar, yang hilang bukan sekadar pohon atau ikan. Yang lenyap adalah sekutu, pelindung, suara yang dibungkam.
Davi Kopenawa melihat kekerasan ini bukan hal baru. Ia hanya mengambil bentuk berbeda. Dulu, serangan perang antarkomunitas Yanomami mengikuti aturan yang ketat. Siapa pun yang membunuh musuh, baik dengan tombak maupun cara tak kasatmata seperti ilmu hitam, harus menjalani ritual khusus. Ia harus menjalani larangan, mengasingkan diri, dan yang terutama, “mencerna” secara simbolis kekerasan yang dilakukan. Proses ini bukan sekadar penyucian. Ia mengingatkan bahwa setiap agresi, bahkan yang dibenarkan, memiliki konsekuensi. Hutan tak pernah lupa. Ia mengingat setiap luka yang ditorehkan, dan para roh xapiri menyimpan jejaknya.
266 - Setiap orang yang membunuh (« memakan ») musuh dalam serangan perang atau melalui cara tak kasatmata (ilmu hitam, perdukunan agresif, perburuan roh hewan) memasuki keadaan ritual pembunuhan (õnokae) di mana ia diharuskan mencerna daging berdarah korbannya.
Gagasan “pencernaan” kekerasan ini bukan sekadar kiasan puitis. Ia mengungkap pandangan dunia di mana setiap tindakan memiliki dampak nyata, meski tak terlihat. Ketika orang kulit putih memasuki wilayah Yanomami dengan mesin dan bahan peledak, mereka tak hanya membunuh pohon atau hewan. Mereka juga membunuh roh, sekutu, kekuatan yang memelihara tatanan dunia. Davi Kopenawa menekankan bahwa perusakan ini bukan kebetulan. Ia sistematis, terorganisir, dan yang terutama, ia adalah perang. Perang melawan xapiri, melawan orang Yanomami, melawan segala yang menentang nafsu para pemangsa.
Bagi Davi Kopenawa, hutan adalah subjek politik. Ia bukan objek yang bisa dieksploitasi, melainkan ruang kedaulatan di mana manusia dan non-manusia hidup berdampingan. Xapiri bukan sekadar tokoh cerita rakyat. Mereka adalah pelaku penuh, sekutu dalam perjuangan bertahan hidup. Pelemahan mereka akibat penebangan atau pencemaran sungai bukan kerusakan sampingan. Itu strategi perang, cara mematahkan perlawanan Yanomami dengan menyerang fondasi spiritualnya.
Hutan sebagai Wilayah Perlawanan
Konsep “tanah-hutan makhluk manusia” yang dikemukakan Davi Kopenawa bukan sekadar penamaan geografis. Ia menunjuk pada ruang di mana manusia bukan satu-satunya yang berhak menentukan. Xapiri, hewan, sungai, pohon—mereka semua memiliki suara. Ketika prospektor geologi meninggalkan bahan peledak atau bahan bakar di wilayah Yanomami, itu bukan sekadar bahaya fisik. Itu penghinaan terhadap roh, pelanggaran terhadap wilayah mereka. Orang Yanomami bukan korban pasif. Mereka adalah penjaga dunia di mana setiap unsur memiliki tempatnya, dan setiap agresi adalah deklarasi perang.
Davi Kopenawa mengingatkan bahwa perang ini bukan hanya bersifat material. Ia juga spiritual. Xapiri, roh-roh perdukunan itu, adalah sekutu aktif dalam perlindungan wilayah. Pelemahan mereka akibat perusakan hutan sama dengan kekalahan militer. Tanpa mereka, orang Yanomami kehilangan sebagian kekuatan, kemampuan untuk melawan. Penebangan bukan sekadar bencana ekologis. Ia adalah strategi dominasi, cara mematahkan kedaulatan Yanomami dengan menyerang fondasi tak kasatmatanya.
Mimpi sebagai Senjata Perlawanan
Bagi Davi Kopenawa, mimpi bukan sekadar fenomena psikologis. Ia adalah ruang pertemuan dengan xapiri. Ketika seorang dukun bermimpi, esensi vitalnya berkelana bersama roh-roh itu, dan mereka mengungkapkan kebenaran, bahaya, strategi. Mimpi adalah senjata, cara melihat melampaui yang kasatmata, memahami ancaman sebelum tiba. Dalam dunia di mana orang kulit putih menginvasi wilayah dengan mesin dan hukum mereka, mimpi menjadi alat perlawanan. Ia memungkinkan untuk melihat yang tak terlihat, memahami niat para pemangsa, dan yang terutama, mempersiapkan balasan.
Davi Kopenawa mengamati bahwa dimensi spiritual ini sering diabaikan para penyerbu. Bagi mereka, hutan adalah ruang kosong, cadangan sumber daya. Mereka tak melihat xapiri, tak memahami peran mereka, dan yang terutama, tak mengukur konsekuensi kehancuran mereka. Namun, setiap pohon yang ditebang, setiap sungai yang tercemar, adalah serangan terhadap sekutu tak kasatmata itu. Dan setiap serangan terhadap xapiri adalah serangan terhadap orang Yanomami sendiri.
Runtuhnya Langit sebagai Peringatan
“Runtuhnya langit” yang dikemukakan Davi Kopenawa bukan sekadar metafora kiamat. Ia adalah kenyataan yang nyata, konsekuensi langsung dari perusakan hutan. Ketika roh xapiri lenyap, ketika dukun mati, ketika sungai tercemar, langit itu sendiri terancam. Ia bisa runtuh, membawa serta segala yang hidup. Gagasan ini bukan takhayul. Ia mengungkap kebenaran mendalam: hutan dan langit terhubung, dan kehancuran mereka adalah ancaman bagi keseimbangan dunia.
Davi Kopenawa tak berbicara sebagai teoretisi. Ia berbicara sebagai saksi, pelaku, dukun yang telah melihat dunianya berubah di bawah tekanan para pemangsa. Suaranya adalah seruan untuk memahami bahwa perlawanan Yanomami bukan sekadar perjuangan mempertahankan tanah. Ia adalah perjuangan untuk kelangsungan hidup roh, untuk pelestarian dunia di mana manusia dan non-manusia hidup berdampingan. Dan perjuangan ini juga milik kita.
Sumber yang dikutip
- Davi Kopenawa, La Chute du ciel, ed. Plon, coll. Terre humaine, 2010, alih bahasa Bruce Albert (propos yanomami recueillis et traduits).