Mendengarkan yang Bukan Manusia: Bahasa, Diam, dan Kehadiran

Dua jalan untuk menghuni dunia tanpa perantara

Mendengarkan yang Bukan Manusia: Bahasa, Diam, dan Kehadiran
Nicolas Poussin — Orion Buta Mencari Matahari Terbit (1658). Metropolitan Museum of Art, CC0.

Orang Ávila Runa dikenal—dan ditakuti—di kalangan komunitas Runa di dataran rendah karena kemampuan tertentu. Teks menyebut reputasi ini tanpa merincikan batasannya, namun menekankan dampaknya bagi mereka yang mendengarnya:

Sesungguhnya, seperti yang telah saya sebutkan dalam pengantar, orang Ávila Runa terkenal—dan ditakuti—di seluruh komunitas Runa dataran rendah karena kemampuan mereka berubah menjadi were-jaguar yang dapat mengubah wujud.

Eduardo Kohn, how forests think  — ed. menurut terjemahan Prancis, alih bahasa viasophia

Kalimat ini tidak mengatakan lebih. Ia tidak menggambarkan prosesnya, tidak menjelaskannya, tidak menempatkannya dalam konteks yang lebih luas. Ia sekadar menyampaikan sebuah reputasi, sebuah ketakutan yang beredar. Kata-kata were-jaguar yang dapat mengubah wujud menggantung, tanpa penjelasan. Mereka menunjuk pada suatu kemungkinan, tapi tanpa mengungkap hakikatnya. Apakah ini soal perubahan fisik? Metamorfosis simbolik? Pengalaman perseptif? Teks tidak memutuskan. Ia hanya membiarkan pemahaman bahwa kemampuan ini ada, diakui oleh yang lain, dan menimbulkan reaksi tertentu.


Diam sebagai tindakan

Berlawanan dengan gambaran tentang perubahan itu, muncul praktik lain yang sangat berbeda dalam bentuk dan tujuannya. Shikantaza, atau “hanya duduk”, digambarkan sebagai seni di mana kehadiran seketika mengalahkan segala perantara. Teks yang membicarakannya tidak menyebut hutan, jaguar, atau metamorfosis. Ia fokus pada satu gerak: duduk.

Seni Hanya Duduk: Tulisan-Tulisan Esensial tentang Praktik Zen Shikantaza.

Dogen Shobogenzo Treasury True Dharma Eye Tanahashi, dogen-shobogenzo-treasury-true-dharma-eye-tanahashi  — ed. menurut terjemahan Prancis, alih bahasa viasophia

Kalimat ini pun minimalis. Ia tidak menguraikan apa arti “hanya duduk”, tidak menjelaskan apa yang terjadi selama tindakan itu, atau apa tujuannya. Ia sekadar menyebut sebuah praktik, tanpa merinci mekanisme atau efeknya. Judulnya mengisyaratkan bahwa ini adalah seni, tapi tanpa mengungkap aturan atau tujuannya. Penekanannya terletak pada tindakan itu sendiri, tanpa rujukan pada sesuatu di luar atau perubahan apa pun.


Dua cara hadir di dunia

Di satu sisi, ada kemampuan menjadi sesuatu yang lain, disampaikan melalui reputasi yang merambat di antara komunitas. Di sisi lain, praktik di mana seseorang tetap menjadi dirinya, tanpa berusaha menjadi apa pun. Kedua pendekatan ini tampak berlawanan: yang satu melibatkan gerak, semacam metamorfosis, sementara yang lain bertumpu pada ketenangan dan ketiadaan tujuan.

Namun, keduanya tidak berusaha menjelaskan dunia. Yang pertama tidak mengatakan bagaimana perubahan menjadi jaguar terjadi, atau apa artinya. Ia sekadar menyampaikan keyakinan atau pengalaman, tanpa menarik kesimpulan. Yang kedua tidak menawarkan metode untuk mencapai keadaan tertentu, atau teori tentang apa arti “hanya duduk”. Ia hanya menyebut sebuah praktik, tanpa mengurai implikasinya.


Yang tersisa

Kedua teks ini memberi ruang bagi diam. Dalam kasus pertama, diam itu menyangkut hakikat perubahan: teks tidak menjelaskan apa arti “menjadi jaguar”, atau bagaimana hal itu terwujud. Dalam kasus kedua, diam justru menjadi inti praktik itu sendiri: duduk tanpa menunggu apa pun, tanpa berusaha menangkap sesuatu.

Tak satu pun dari keduanya mengklaim memberi jawaban final. Mereka sekadar menawarkan cara untuk hadir—baik dengan menjadi sesuatu yang lain, maupun dengan tetap menjadi diri sendiri, tanpa perantara. Yang satu menggambarkan kemampuan yang menimbulkan rasa takut dan reputasi, yang lain praktik di mana tindakan itu sendiri adalah tujuannya. Namun dalam kedua kasus, sesuatu terjadi dalam kehadiran seketika, tanpa penjelasan, tanpa pembenaran.

Tak ada yang ditegaskan di luar apa yang dikatakan teks. Tak ada yang ditambahkan. Yang tersisa hanyalah dua gambaran ini, berdampingan, tanpa jembatan di antara keduanya, tanpa sintesis. Hanya kemampuan menjadi jaguar, dan seni hanya duduk.

Sumber yang dikutip

  • Eduardo Kohn, how forests think, ed. .
  • Dogen Shobogenzo Treasury True Dharma Eye Tanahashi, dogen-shobogenzo-treasury-true-dharma-eye-tanahashi, ed. .