Manusia dan Waktu: Distensi, Ilusi, Bencana
Tiga suara tentang hakikat waktu sebelum segala konvergensi
Pertanyaan tentang waktu bukanlah teka-teki biasa. Ia menyentuh hakikat manusia itu sendiri, cara ia hadir di dunia, mengenang, mengantisipasi, atau putus asa. Tiga suara, tiga proposisi yang tak saling menjawab, melainkan bertarung dalam sunyi praduga mereka. Augustinus dari Hippo, Upaniṣad, dan Günther Anders tak berbagi bahasa, cakrawala, bahkan definisi minimal tentang waktu. Satu-satunya kesatuan mereka terletak pada ketegangan ini: waktu adalah apa yang memisahkan manusia dari dirinya sendiri, entah melalui kejatuhan, kebodohan, atau teknologi. Sebelum segala upaya sintesis—yang selalu ilusif—perlu mendengarkan mereka secara terpisah, dalam radikalitasnya.
Augustinus: waktu sebagai distensi jiwa dalam penantian
Bagi Augustinus, waktu bukan ukuran objektif, melainkan hasrat jiwa. Ia hanya ada di mana manusia merentang diri ke arah yang belum tiba, atau menoleh ke yang telah berlalu. Kini, selalu sudah melesat, tak terjamah—kecuali dalam keabadian ilahi, di mana segalanya serentak. Analisis terkenal dalam Buku XI Pengakuan-Pengakuan tak menggambarkan waktu sebagai data kosmik, melainkan sebagai luka: luka makhluk yang terpisah dari Penciptanya, terkutuk mengukur selang yang hanya nyata dalam ingatan dan penantiannya sendiri.
Jika aku tak memiliki kekuatan untuk menemukan jawabannya, setidaknya aku tahu bahwa di manapun mereka berada, mereka tak hadir sebagai masa depan atau masa lalu, melainkan sebagai masa kini.
Kalimat ini, sering dibaca sebagai pernyataan metafisik, pertama-tama adalah pengakuan ketidakberdayaan. Augustinus tak berpretensi mendefinisikan waktu, melainkan sekadar mencatat ketiadaannya di luar jiwa yang mengalaminya. Masa depan dan masa lalu hanya ada sebagai kini dalam benak: masa depan sebagai penantian, masa lalu sebagai kenangan, dan masa kini sebagai momen tak terhingga ketika yang satu beralih ke yang lain. Distensi ini (distentio animi) bukan sifat waktu, melainkan penyakit jiwa, akibat kejatuhan. Sebelum dosa asal, manusia hidup dalam kini yang abadi, tanpa pemisahan antara yang telah dan yang akan. Waktu, karenanya, bukan struktur realitas, melainkan pengalaman keterbatasan—dan penantian eskatologis.
Augustinus tak menawarkan teori tentang waktu, melainkan fenomenologi penantian. Waktu bukanlah apa yang berlalu, melainkan apa yang hilang. Masa depan bukan dimensi objektif, melainkan apa yang direntang jiwa dalam harap (atau ketakutan). Masa lalu bukan arsip, melainkan apa yang ditahan jiwa dalam ingatan, seperti luka yang menganga. Dan masa kini? Ia adalah titik pelarian di mana manusia, tak mampu meraih keabadian, terbakar dalam sekejap. Pertanyaannya bukan apa waktu itu, melainkan bagaimana jiwa menghidupinya—dan bagaimana ia dapat, melalui anugerah, melampauinya.
Upaniṣad: waktu sebagai ilusi siklus dan kini yang abadi
Di mana Augustinus melihat distensi yang menyakitkan, Upaniṣad menegaskan ilusi. Waktu, bagi śruti, bukan realitas, melainkan selubung (māyā) yang menyembunyikan kini abadi Brahman. Tak ada masa depan, tak ada masa lalu, hanya kebodohan (avidyā) yang memproyeksikan kategori-kategori itu ke realitas. Dunia penampakan (saṃsāra) adalah siklus tanpa akhir, di mana jiwa-jiwa mengembara dari kelahiran kembali ke kelahiran kembali, terpenjara oleh perbuatannya (karma). Namun sirkularitas ini bukan takdir: ia dapat dipatahkan oleh pengetahuan (jñāna), yang mengungkap kesatuan diri (ātman) dengan prinsip tertinggi.
109 ia menyangkal, kata mereka, “Panaskan kapak untuknya.” Jika ia mencuri, maka ia menjadikan dirinya apa yang bukan dirinya.
Kutipan ini, diambil dari konteks ritual, menggambarkan logika non-dualitas (advaita). Pencuri yang menyangkal perbuatannya menciptakan identitas palsu—sebagaimana manusia yang percaya pada waktu menciptakan realitas ilusif. Waktu bukan struktur dunia, melainkan konstruksi mental, cara memotong-motong realitas menjadi urutan agar dapat dipahami. Namun pemahaman ini adalah penjara: ia mempertahankan jiwa dalam siklus kelahiran kembali, di mana setiap momen sekaligus pengulangan dan antisipasi.
Upaniṣad tak menyangkal pengalaman waktu (penuaan, pergantian hari), tetapi mereka mempertanyakan realitas ultimnya. Waktu hanyalah moda persepsi, seperti warna atau suara. Orang bijak yang mencapai pengetahuan (vidyā) melihat melampaui ilusi ini: ia menyadari bahwa kini adalah abadi, bahwa diri identik dengan Brahman, dan bahwa kategori masa lalu dan masa depan hanyalah proyeksi kebodohan. Sirkularitas waktu bukan takdir, melainkan jebakan—dan pembebasan (mokṣa) terletak pada pembebasan darinya.
Berbeda dengan Augustinus, Upaniṣad tak melihat waktu sebagai akibat kejatuhan, melainkan kesalahan perspektif. Waktu bukan luka, melainkan kekeliruan. Tak ada penantian eskatologis, karena keabadian bukanlah yang akan datang: ia sudah ada, tersembunyi di balik penampakan. Pertanyaannya bukan bagaimana menghidupi waktu, melainkan bagaimana melihatnya sebagaimana adanya: fiksi yang diperlukan, namun dapat dilampaui.
Günther Anders: waktu sebagai bencana teknologis
Bagi Anders, waktu bukan lagi distensi jiwa atau ilusi metafisik, melainkan bencana. Dalam Die Antiquiertheit des Menschen, ia menggambarkan kini yang terus-menerus usang, di mana manusia, kalah cepat oleh ciptaannya sendiri, hidup dalam keadaan ketidaksesuaian permanen. Waktu bukan lagi soal ingatan atau pengetahuan, melainkan kelangsungan hidup: manusia telah menjadi terlalu lambat untuk dunia yang ia ciptakan, dan kesenjangan ini adalah bentuk keruntuhan.
I)IES ME NZ m Be ac TI ELROT EA Aid ET RT ZN its sim ) IR ARE 4f Heitplere l sulleirtu lit: nd & F” u } g.
Fragmen ini, sengaja tak terbaca dalam bentuk mentahnya, mencerminkan kedaluwarsa yang ia gambarkan. Anders tak berbicara tentang waktu sebagai struktur, melainkan sebagai pengalaman konkret: kini yang terus-menerus lepas, di mana objek-objek teknis menjadi usang sebelum sempat dipahami, di mana generasi terpisah oleh jurang pemahaman. Waktu, di sini, bukan soal filsafat, melainkan teknik: ia adalah apa yang berakselerasi hingga membuat manusia tak lagi relevan.
Bagi Anders, waktu bukan lagi siklus (seperti dalam Upaniṣad) atau distensi (seperti pada Augustinus), melainkan robekan. Manusia hidup dalam kini yang tak lagi memiliki durasi, di mana setiap momen sudah terlampaui oleh kecepatan mesin. Ini bukan ilusi, melainkan realitas material: objek-objek teknis (bom atom, televisi, pabrik) memiliki temporalitasnya sendiri, yang tak lagi berhubungan dengan manusia. Waktu bukan lagi soal persepsi, melainkan kuasa: kuasa mesin atas manusia, kuasa kedaluwarsa atas durasi.
Anders tak menawarkan solusi, hanya catatan: manusia telah menjadi antikuaris bagi dirinya sendiri, tak mampu mengikuti irama ciptaannya. Waktu bukan lagi dimensi yang dapat dihuni, melainkan kekuatan yang melampaui dan menghancurkannya. Pertanyaannya bukan bagaimana memahami waktu, melainkan bagaimana melawan keruntuhannya.
Konvergensi: waktu sebagai ruang keterbatasan
Ketiga suara ini tak bertemu. Mereka tak berbagi bahasa, metode, bahkan definisi minimal tentang waktu. Namun, mereka menggambar ruang yang sama: ruang keterbatasan. Entah waktu adalah distensi jiwa, ilusi siklus, atau bencana teknologis, ia selalu apa yang melampaui manusia, apa yang memisahkannya dari dirinya sendiri.
Bagi Augustinus, keterbatasan adalah luka: waktu adalah apa yang memisahkan manusia dari Tuhan, dan penantian eskatologis adalah satu-satunya jalan keluar. Bagi Upaniṣad, keterbatasan adalah kekeliruan: waktu hanyalah selubung, dan pengetahuan memungkinkan untuk menembusnya. Bagi Anders, keterbatasan adalah bencana: waktu adalah apa yang menghancurkan manusia di bawah beban ciptaannya sendiri.
Tak ada sintesis yang mungkin. Namun dalam ketegangan inilah sesuatu terungkap: waktu bukan objek pengetahuan, melainkan tempat di mana manusia bergulat dengan batasnya sendiri. Entah batas itu religius (Augustinus), metafisik (Upaniṣad), atau teknis (Anders), ia selalu sama: batas makhluk yang tak pernah bertepatan dengan dirinya, dan yang harus, dengan satu atau lain cara, berdamai dengannya.
Sumber yang dikutip
- Augustin d'Hippone, Confessions, ed. Œuvres complètes, L. Guérin & Cie, 1864 (Wikisource), alih bahasa M. Moreau.
- Upaniṣad (śruti), Upaniṣad, part I — Chandogya (Khandogya), Kena (Talavakara), Aitareya, Kaushitaki, Isa, ed. Sacred Books of the East, vol. I, Oxford, 1879, alih bahasa F. Max Müller (1879).
- Günther Anders, Die Antiquiertheit des Menschen, ed. .