Orang Berilmu
Kata ini mula-mula menunjuk pada siapa yang tahu, pewaris akar Latin tempat pengetahuan adalah akumulasi sabar. Namun, di balik netralitas ilmu, ia mewujudkan kuasa sosial, mengubah elite menjadi pemegang sah wacana. Peta lintas-bahasa mengungkap gerak yang sama: di mana-mana, “orang berilmu” menyamarkan otoritas yang dibungkus keahlian.
Originalnya, kata ini pertama-tama menunjuk pada sebuah kualitas: orang yang mengumpulkan pengetahuan melalui belajar atau pengalaman. Dalam bahasa Prancis, kata ini muncul pada abad ke-13, dibawa oleh akar Latin di mana sapere mula-mula berarti cita rasa, lalu kebijaksanaan, sebelum akhirnya mengkhusus pada ranah intelektual. Namun, apa yang tampak sebagai penunjukan sederhana itu segera dibebani fungsi sosial: “orang berilmu” bukan lagi sekadar orang yang tahu, melainkan orang yang pengetahuannya diakui sah, dan karenanya berhak berbicara atas nama semua.
Makna di balik kata
Secara etimologi, orang berilmu berasal dari partisip present Latin sapiens, yang sendiri bersumber dari sapere (“memiliki cita rasa, membedakan”). Makna asalnya tidak mengandung hierarki apa pun: ia sekadar kemampuan, bukan status. Pergeseran terjadi ketika kemampuan itu menjadi penanda pembeda, memanipulasi batas antara mereka yang “tahu” dan mereka yang “tidak tahu”. Kata yang tampak netral itu kemudian menjadi wahana kekerasan simbolik, di mana kuasa bersembunyi di balik jubah prestasi.
Silsilah pergeseran
Mekanismenya ganda: di satu sisi, pengetahuan disajikan sebagai properti objektif, terlepas dari kondisi sosial yang melahirkannya; di sisi lain, mereka yang menjadi pemegangnya mengklaim hak untuk menentukan apa yang dianggap “benar” atau “sah”. Bourdieu menunjukkan bagaimana proses ini terwujud dalam bahasa itu sendiri:
Untuk mereproduksi dalam wacana ilmiah fetisisme bahasa yang sah yang terjadi dalam kenyataan, cukup dengan menggambarkan, bersama Bernstein, sifat-sifat “kode elaborasi”
Kutipan ini mengungkap fetisisme yang bekerja: “kode elaborasi” bukan sekadar struktur linguistik, melainkan alat reproduksi relasi dominasi. Dengan menggambarkannya sebagai sifat bawaan kelas atas, ketimpangan itu dinaturalisasi, mengubah keunggulan sosial menjadi kompetensi “alami”. Kata orang berilmu pun menjadi nama kuasa yang disamarkan, di mana pengetahuan berfungsi sebagai tabir otoritas.
Tabir yang sama, dari satu bahasa ke bahasa lain
Pembelokan ini bukan khas bahasa Prancis. Bahasa-bahasa lain menunjukkan gerak serupa: memanipulasi kuasa sosial dengan menyamarkannya sebagai pengetahuan. Sumber asli di setiap wilayah mengungkap konturnya yang spesifik.
| Langue | Forme du mot | Attestation |
|---|---|---|
| Prancis | orang berilmu | ● |
| Inggris | modal budaya | ○ |
| Jerman | Bildungsbürgerlichkeit | ○ |
| Spanyol | cultismo | ○ |
| Italia | sapere-potere | ○ |
| Rusia | наукообразие naukoobrazie | ○ |
| Turki | bilgiçlik | ○ |
| Tionghoa | 学阀 xuéfá | ○ |
Sifat yang sama (memanipulasi) dan objek yang sama (kuasa sosial yang disamarkan sebagai pengetahuan) dibuktikan oleh sumber asli dalam bahasa Prancis. Ketiadaan sumber (bukan ketiadaan fenomena) dalam bahasa Inggris, Jerman, Spanyol, Italia, Rusia, Turki, Tionghoa.
attesté par un dévoileur natif · lacune (non encore sourcé) — jamais « absent »
Dalam bahasa Rusia, istilah учёный (uchyonyy) menunjuk baik ilmuwan maupun cendekiawan, namun penggunaannya mengungkap ketegangan serupa. Seperti dicatat Lotman, budaya Rusia abad ke-19 melembagakan dikotomi antara narod (rakyat) dan intelligentsia, di mana kelompok terakhir mengklaim monopoli atas pengetahuan yang sah. Kata учёный tidak sekadar menggambarkan kompetensi: ia menandai keanggotaan dalam elite yang kriteria aksesnya sama sosialnya dengan kognitif. Kutipan Lotman memperlihatkan bagaimana kategori yang tampak netral ini berfungsi melegitimasi hierarki di mana pengetahuan menjadi hak istimewa kelas.
Bahasa Jerman, dengan Gelehrter, menawarkan variasi lain atas tema ini. Istilah yang terbentuk dari lehren (“mengajar”) menekankan transmisi, tapi juga otoritas yang menyertainya. Bourdieu dan Passeron, dalam karya mereka tentang pendidikan, menyoroti bagaimana sistem sekolah Jerman memanipulasi ketimpangan dengan menyajikannya sebagai perbedaan “bakat” atau “prestasi”. Gelehrter bukan sekadar orang yang belajar: ia adalah orang yang pembelajarannya diakui lebih unggul, dan karenanya layak direproduksi. Kutipan Kracauer mengungkap dimensi politik ini: pengetahuan di sana bukan akumulasi ilmu, melainkan penanda pembeda, di mana akses ke budaya yang sah menjadi medan pertarungan kuasa.
Terakhir, scholar dalam bahasa Inggris menggambarkan versi institusional dari pergeseran ini. Berasal dari bahasa Latin scholasticus (“berkaitan dengan sekolah”), kata ini semula menunjuk orang yang mengikuti lembaga pendidikan. Namun, seperti ditunjukkan Williams, penggunaannya kini mengarah pada konotasi legitimasi: scholar bukan sekadar pelajar, melainkan orang yang karyanya diakui oleh institusi akademik. Kutipan Said memperlihatkan bagaimana pengakuan ini tak terpisahkan dari sistem nilai di mana bentuk-bentuk pengetahuan tertentu—dan karenanya penutur tertentu—diberi privilese. Kata scholar pun memanipulasi hierarki di mana keahlian menjadi alat dominasi, disamarkan sebagai netralitas ilmiah.
Pengetahuan atau kuasa?
Kata orang berilmu tidak sekadar menunjuk kompetensi: ia menjadikannya senjata. Dengan memanipulasi kuasa sebagai pengetahuan, ia mengubah ketimpangan sosial menjadi perbedaan “alami”, di mana pemegang otoritas tampil sebagai sekadar penjaga kebenaran objektif. Peta lintas-bahasa menunjukkan bahwa gerak ini bukan kebetulan sejarah, melainkan pola yang berulang: di mana-mana, tabir yang sama ditenun, dalam bentuk leksikal berbeda, namun dengan fungsi yang sama. Pertanyaannya, setelah terbongkar, apakah kata itu masih bisa digunakan untuk hal lain selain menyamarkan.
Sumber yang dikutip
- Pierre Bourdieu, Ce que parler veut dire, ed. Fayard.