Runtuhnya dan Pilihan yang Tak Lagi Memilih

Ketika asap menyingkap apa yang ilusi tak lagi sembunyikan

Runtuhnya dan Pilihan yang Tak Lagi Memilih
Raphael — 'Sekolah Athena' karya Raffaello Sanzio da Urbino. Wikimedia Commons, CC0.

Ada saat ketika pertanyaan tak lagi dirumuskan sebagai pembukaan, melainkan sebagai pengakuan. Saat ketika apa yang dulu menjadi bahan perdebatan—ilusi, keyakinan palsu—tak lagi relevan, bukan karena telah terpecahkan, melainkan karena dianggap tak lagi penting. Isabelle Stengers menunjuk momen ini dengan ketajaman yang tak menyisakan ruang tafsir:

Maka yang harus dipikirkan adalah saat ketika peran—yang sebelumnya dianggap krusial—dari ilusi dan keyakinan palsu, telah kehilangan signifikansinya, tanpa dengan demikian menggoyahkan, bahkan sebaliknya, kekuasaan “pilihan terpaksa”

Isabelle Stengers, Au temps des catastrophes  — ed. menurut terjemahan Prancis, alih bahasa viasophia

Pilihan terpaksa itu tak digambarkan. Ia hanya disebut, dan kekuasaannya ditandai sebagai utuh, bahkan kian menguat. Teks tak menjelaskan apa isinya, atau bagaimana ia dipaksakan. Ia sekadar menunjukkan bahwa cengkeramannya bertahan, sementara ilusi yang dulu menyertainya telah kehilangan fungsinya. Tak lagi perlu membela gagasan-gagasan tertentu, karena ia telah mengakar sebagai kebenaran yang tak perlu dipertanyakan. Alternatif, jika ada, tak disebut-sebut.


Davi Kopenawa berbicara tentang perambatan. Bukan gagasan, bukan pilihan, melainkan zat yang bergerak:

234 - Wabah (xawara) merambat di dunia yang tampak dalam wujud asap (xawara wakëxi).

Davi Kopenawa, La Chute du ciel  — ed. menurut terjemahan Prancis oleh Bruce Albert, Plon, coll. Terre humaine, 2010, alih bahasa viasophia

Kalimat itu faktual. Tak menyebut sebab, akibat, atau bahkan hakikat asap itu sendiri. Ia hanya menetapkan hubungan antara wabah dan manifestasinya yang kasatmata. Kata xawara diulang, seolah untuk menegaskan bahwa asap bukan sekadar pembawa, melainkan bentuk yang diambil penyakit itu sendiri. Dunia yang tampak disebutkan, tanpa penekanan, sebagai tempat perambatan itu terjadi.


Kedua fragmen ini tak saling menjawab. Tak pula saling bertentangan. Mereka berdampingan, masing-masing dalam ranahnya: yang satu berbicara tentang sistem di mana opsi kian langka tanpa perlu lagi pembenaran; yang lain menggambarkan fenomena di mana wabah mengambil rupa asap. Tak satu pun menawarkan solusi. Tak satu pun menggeneralisasi melebihi apa yang diucapkannya.

Namun, penempatan mereka berdampingan menyingkap ketegangan. Di satu sisi, penyempitan kemungkinan, di mana ilusi tak lagi perlu dibela karena telah menyatu dengan lanskap. Di sisi lain, perambatan yang tak bersembunyi, yang tampak dalam wujud nyata. Asap di sini bukan kiasan. Ia adalah cara wabah menjadi terlihat. Pilihan terpaksa, sebaliknya, tak tampak. Ia bekerja di balik layar, membatasi apa yang bisa dipikirkan, tanpa perlu disebutkan.


Baik Stengers maupun Kopenawa tak mengatakan apa yang harus dilakukan. Stengers tak menjabarkan mekanisme pilihan terpaksa, hanya keberlangsungannya. Kopenawa tak mengomentari asap, hanya kehadirannya. Teks mereka tak bertemu di satu medan bersama, tapi masing-masing menunjuk, dengan caranya sendiri, gerak yang sama: dunia di mana sebagian hal tertutup sementara yang lain meluas.

Asap merambat. Pilihan menyempit. Tak satu pun dari kedua suara itu berusaha menjelaskan yang lain. Tak satu pun mengklaim memiliki kunci. Mereka sekadar menunjuk, yang satu pada fenomena kasatmata, yang lain pada logika tak terlihat. Dan barangkali di sanalah, dalam ketiadaan konvergensi yang dipaksakan, sesuatu terlihat: bukan jawaban, melainkan undangan untuk mengamati apa yang terjadi ketika solusi menyusut dan tanda-tanda berlipat ganda.

Sumber yang dikutip

  • Isabelle Stengers, Au temps des catastrophes, ed. .
  • Davi Kopenawa, La Chute du ciel, ed. Plon, coll. Terre humaine, 2010, alih bahasa Bruce Albert (propos yanomami recueillis et traduits).