Pendengaran sebagai ambang: bahasa dan keheningan antara manusia dan non-manusia

Dua jalan bagi perhatian yang sama

Pendengaran sebagai ambang: bahasa dan keheningan antara manusia dan non-manusia
Nicolas Poussin — Orion Buta Mencari Matahari Terbit (1658). Metropolitan Museum of Art, CC0.

Dua usulan tentang pendengaran saling berhadapan, tanpa bertentangan. Yang satu berangkat dari bahasa untuk mengungkap fungsinya sebagai simbol, yang lain dari keheningan indrawi untuk memunculkan kata-kata. Keduanya tak mereduksi hubungan antara manusia dan non-manusia menjadi persoalan komunikasi atau pemahaman. Mereka justru menggambarkan syarat-syaratnya, di mana kata tak lagi berperan sebagai alat, melainkan sebagai ambang.

Cermin hati

Attar mengajukan sebuah gambaran: hati sebagai permukaan yang memantulkan. Keindahan sang kekasih—baik manusia maupun burung—tak dimiliki, tak dianalisis. Ia terungkap manakala hati menjadi cermin itu.

Begitu pula, jika kau mencintai keindahan kekasihmu, ketahuilah bahwa hatimu adalah cerminnya.

Fariduddin Attar, Mantic Uttaïr, ou le Langage des oiseaux  — ed. menurut terjemahan bahasa Prancis oleh Joseph Héliodore Garcin de Tassy, Imprimerie impériale, Paris, 1863, alih bahasa viasophia

Di sini, bahasa bukanlah yang utama. Ia adalah apa yang memungkinkan kita melintasi penampakan untuk mencapai apa yang mendasarinya. Kata-kata tak menunjuk langsung pada keindahan, melainkan mengarahkan pandangan pada apa yang membuatnya tampak: hati. Ini bukan sekadar kiasan, melainkan usulan konkret. Hati bukan wadah pasif, melainkan tempat keindahan terpantul, asalkan digosok oleh perhatian.

Usulan ini tak memisahkan manusia dari non-manusia. Kekasih bisa jadi seekor burung, gunung, atau manusia lain. Hubungan tak bergantung pada hakikat yang lain, melainkan pada kualitas cermin. Dalam perspektif ini, bahasa bukanlah penghalang, melainkan sarana untuk mempersiapkan cermin itu.

Penyelarasan irama

Abram, di sisi lain, berangkat dari pengalaman yang berbeda: persepsi sebagai sinkronisasi. Tubuh bukan pengamat yang jauh, melainkan partisipan yang iramanya menyelaraskan diri dengan irama benda-benda itu sendiri.

Persepsi, dalam arti ini, adalah penyelarasan atau sinkronisasi antara irama-irama diriku sendiri dengan irama-irama benda itu sendiri, nada dan teksturnya:

David Abram, The Spell of the Sensuous  — ed. menurut edisi asli bahasa Inggris, alih bahasa viasophia

Di sini, pendengaran mendahului bahasa. Ia bukan mediasi simbolik, melainkan pencelupan dalam tekstur dan nada dunia. Kata-kata baru muncul kemudian, sebagai perluasan dari sinkronisasi pertama itu. Mereka bukan jembatan menuju kebenaran di luar, melainkan gema dari penyelarasan tersebut.

Non-manusia—pohon, sungai, hewan—bukan objek yang diberi nama, melainkan mitra dalam tarian irama ini. Persepsi bukan penerimaan pasif, melainkan partisipasi aktif, di mana tubuh menyelaraskan diri dengan apa yang mengelilinginya.

Ambang yang sama

Kedua usulan tak bertemu pada kebenaran yang sama, melainkan pada syarat yang sama: pendengaran sebagai ambang. Dalam pemikiran Attar, ia adalah apa yang memungkinkan kita melintasi bahasa untuk mencapai apa yang melampauinya. Dalam pandangan Abram, ia adalah apa yang mendahului kata-kata dan membuatnya muncul.

Tak satu pun dari keduanya mereduksi hubungan menjadi persoalan komunikasi. Mereka justru menggambarkan syarat-syaratnya: hati yang menjadi cermin, tubuh yang menyelaraskan diri dengan irama dunia. Syarat-syarat ini bukan tahapan yang harus dilalui, melainkan sikap yang perlu dibina.

Dalam kedua kasus, bahasa bukanlah penghalang, melainkan jalan lintas. Ia tak memisahkan manusia dari non-manusia, melainkan menghubungkan mereka melalui apa yang mendahului atau melampaui mereka. Pendengaran bukan tujuan itu sendiri, melainkan apa yang membuka ruang bagi hubungan itu terwujud.

Sumber yang dikutip

  • Farîd al-Dîn ʿAttâr, Mantic Uttaïr, ou le Langage des oiseaux, ed. Imprimerie impériale, Paris, 1863, alih bahasa Joseph Héliodore Garcin de Tassy.
  • David Abram, The Spell of the Sensuous, ed. .