Kecerdasan Pola: Tyson Yunkaporta dan Pemikiran *Dadirri* sebagai Etika Bertahan Hidup

Ketika waktu menjalin motif, bukan mengalir bagai anak panah

Kecerdasan Pola: Tyson Yunkaporta dan Pemikiran *Dadirri* sebagai Etika Bertahan Hidup
Thomas Quine — Perisai anyaman Sarawak (28296990254). Wikimedia Commons, CC BY 2.0.
P

Pengetahuan, menurut Tyson Yunkaporta, tidak ditransmisikan sebagai benda beku, melainkan terungkap dalam tindakan mendengarkan dunia. Ia muncul dari perhatian terhadap motif-motif yang menyusun kehidupan, pattern yang jauh dari sekadar pengulangan, melainkan tata bahasa realitas. Dalam Sand Talk, ia mengajak kita memikirkan kembali waktu bukan sebagai anak panah yang mengarah ke masa depan linear, melainkan sebagai tenunan di mana setiap benang—setiap cerita, setiap totem, setiap musim—berdialog satu sama lain. Pendekatan ini, yang berakar pada praktik yang ia sebut sand talk, bukanlah metafora puitis, melainkan metode konkret untuk menghuni dunia yang sedang dilanda krisis. Ia bertumpu pada keyakinan: sistem yang bertahan bukan lahir dari penerapan model-model luar, melainkan dari kemampuan mengenali dan menyelaraskan diri dengan skema yang telah ada dalam ekosistem.

Saat saya sedang mengidentifikasi pola itu, saya berbincang dengan Dr. Larry Gross, Ketua Studi Pribumi Amerika di Universitas Redlands, California.

Tyson Yunkaporta, Sand Talk , buku Sand Talk  — ed. berdasarkan terjemahan Prancis oleh Anne Delmas, Éditions Véga (Guy Trédaniel), 2021, alih bahasa viasophia

Pola-pola apokaliptik: ingatan bersama

Tyson Yunkaporta mengamati bahwa banyak budaya, baik pribumi maupun bukan, memiliki kisah-kisah bencana yang menandai titik balik dalam sejarah mereka. Kisah-kisah ini bukan sekadar legenda, melainkan arsip hidup yang mengingatkan akan kebenaran mendasar: masyarakat yang tak mampu menyesuaikan diri dengan irama bumi akan punah. Ia menyebut peristiwa mitis ketika meteor menghantam bumi, menimbulkan kehancuran massal dan meninggalkan jejak—seperti biawak yang kulitnya berbekas luka, menjadi pelajaran bagi para penyintas. Kisah ini bukanlah cerita tunggal; ia bergema dalam tradisi lain, termasuk dalam teks seperti Alkitab, dengan kisah Menara Babel.

Kesamaan ini bukan kebetulan. Menurutnya, ia mengungkap pattern universal: budaya yang bertahan dari guncangan adalah yang mempertahankan keberagaman bahasa, praktik, dan sistem yang disesuaikan dengan ekosistem lokal. Keterpakuan pada model kaku dan kehidupan menetap mengarah pada keruntuhan. Sebaliknya, masyarakat yang menerima perubahan sesuai gerak bumi—atau jaringan yang diilhaminya—mengembangkan daya tahan yang memungkinkan mereka melewati krisis. Gagasan ini sejalan dengan karya Dr. Larry Gross, akademisi Anishinaabe, yang berbicara tentang sindrom stres pasca-apokaliptik untuk menggambarkan kondisi budaya yang mengalami guncangan begitu dahsyat hingga tak pernah pulih sepenuhnya. Konsep ini menjelaskan mengapa beberapa masyarakat, setelah keruntuhan, kesulitan membangun kembali, sementara yang lain berhasil mengintegrasikan trauma tersebut ke dalam ingatan kolektif.

Totemisme sebagai sistem dinamis

Bagi Tyson Yunkaporta, pengetahuan tidak terbatas pada ilmu yang diperoleh, melainkan terwujud dalam hubungan hidup dengan dunia. Ia menggambarkan hal ini melalui sistem totemnya sendiri, di mana setiap elemen—burung bangau Brolga, cangkang bakau, kilat—bukan simbol abstrak, melainkan mitra dalam jaringan timbal balik. Totem-totem ini tidak dipilih secara acak: mereka terkait dengan fungsi biologis spesifik, seperti cangkang berbentuk ginjal yang membersihkan darah saat dimakan mentah. Sistem ini bukan kepercayaan statis, melainkan praktik aktif, cara berada dalam interaksi terus-menerus dengan lingkungan.

Pendekatan holistik ini bertolak belakang dengan metode ilmiah yang mengisolasi elemen untuk diteliti di laboratorium. Menurutnya, menganalisis daging krustasea tanpa mengetahui asal-usulnya, musim panennya, atau perannya dalam ekosistem berarti melewatkan hal yang esensial. Pengetahuan, dalam perspektif ini, tidak direduksi menjadi data, melainkan dialami dalam hubungan yang terwujud dengan lanskap. Ia menuntut disiplin, perhatian berkelanjutan terhadap umpan balik yang menghubungkan manusia dengan yang non-manusia. Disiplin ini tidak diperoleh melalui ritual dangkal—seperti memainkan didgeridoo atau membaca tarot—melainkan melalui perendaman dalam kerangka budaya yang hidup, di mana setiap gerak, setiap kata, terjalin dalam motif yang lebih luas.

Sand talk: menggambar motif untuk berdialog

Sand talk, atau “percakapan di atas pasir”, adalah praktik yang mewujudkan pemikiran ini dalam tindakan. Ia bukan sekadar pertukaran verbal, melainkan proses di mana gagasan terbentuk melalui coretan sementara, gambar yang memvisualisasikan skema dunia. Tyson Yunkaporta menekankan bahwa metode ini tidak menawarkan kepastian: ia adalah alat dialog, cara menjelajahi koneksi antara sistem pengetahuan pribumi dan ilmiah. Ia menolak kekakuan dogma demi pendekatan cair, di mana motif-motif terungkap secara bertahap, seperti butiran pasir di bawah jari.

Praktik ini menemukan maknanya ketika dihadapkan pada contoh konkret penghancuran budaya. Ia menyebut Semenanjung Burrup, situs di mana representasi kebijaksanaan leluhur dihancurkan oleh buldoser atas nama “kepastian” yang menolak bentuk pengetahuan lain. Sand talk, sebaliknya, mengakui sifatnya yang sementara dan terbuka. Ia tidak mengklaim memiliki kebenaran, melainkan menawarkan ruang di mana pengetahuan dapat bertemu, berhadapan, dan saling melengkapi. Kerendahan hati ini menjadi inti pendekatannya: ia memungkinkan keluar dari oposisi steril antara tradisi dan modernitas, untuk membayangkan pengetahuan yang sekaligus berakar pada masa lalu dan menjawab tantangan kontemporer.

Waktu sebagai tenunan: etika bertahan hidup

Konsep waktu menurut Tyson Yunkaporta tak terpisahkan dari visinya tentang pattern. Waktu bukan garis lurus, melainkan jaringan motif yang berulang, berubah, dan saling menjalin. Ketidaklinearan ini bukan abstraksi filosofis, melainkan realitas yang dialami, di mana setiap momen sekaligus warisan dan janji. Kisah-kisah apokaliptik yang ia sebut bukan peringatan jauh, melainkan pengingat bahwa krisis adalah momen titik balik, di mana skema lama dapat hancur atau diciptakan kembali.

Pandangan tentang waktu ini memiliki implikasi etis yang mendalam. Ia mengajak memikirkan kembali keberlanjutan bukan sebagai tujuan yang harus dicapai, melainkan sebagai praktik sehari-hari, di mana setiap keputusan terjalin dalam jaringan hubungan. Ia juga menuntut tanggung jawab: mempertahankan keberagaman bahasa, budaya, dan sistem, karena keberagaman inilah yang memungkinkan masyarakat beradaptasi. Di dunia yang ditandai oleh keruntuhan ekologis dan sosial, pendekatan ini menawarkan alternatif bagi model dominan yang sering mengutamakan keseragaman dan pertumbuhan dengan mengorbankan daya tahan.

Suara untuk menghidupkan kembali pengetahuan

Tyson Yunkaporta tidak sekadar mengkritik batasan pengetahuan Barat: ia mengusulkan cara lain untuk mengetahui, berdasarkan mendengarkan, timbal balik, dan perhatian terhadap motif kehidupan. Karyanya, Sand Talk, adalah manifesto sekaligus undangan. Ia mengingatkan bahwa pengetahuan bukanlah milik, melainkan hubungan, dan sistem yang bertahan hanya dapat muncul dari pengakuan timbal balik antara manusia dan dunia di sekitarnya.

Dengan menolak memisahkan pemikiran dari tindakan, ilmu dari pengalaman, ia menggambarkan etika di mana bertahan hidup bukan soal teknik, melainkan sikap. Sikap menerima transformasi oleh skema yang diamati, mengakui bahwa kebijaksanaan tidak terletak pada penguasaan, melainkan pada kemampuan menari mengikuti irama kehidupan. Dalam konteks krisis yang kian bertubi, suara pribumi kontemporer ini menawarkan kompas untuk menavigasi ketidakpastian—bukan dengan mencari jawaban jadi, melainkan dengan belajar mengajukan pertanyaan yang tepat.

Sumber yang dikutip

  • Tyson Yunkaporta, Sand Talk, ed. Éditions Véga (Guy Trédaniel), 2021 — éd. originale Text Publishing, 2019, alih bahasa Anne Delmas.