---
title: "Xapiri, penjaga politik hutan"
sousTitre: "Davi Kopenawa dan kedaulatan roh-roh nonmanusia"
description: "Dalam *La Chute du ciel*, Davi Kopenawa mengembangkan pemikiran di mana roh xapiri bukan sekadar mitos, melainkan perlawanan epistemik yang aktif. Hutan di sini menjadi subjek politik, dilindungi oleh entitas tak kasatmata yang ucapannya menegaskan kedaulatan lain—tak tereduksi oleh lupa kaum kulit putih. Renungan tentang pengetahuan yang berjuang melawan kehancuran."
date: 2026-10-19
lang: id
tradition: yanomami
auteurs: ["Davi Kopenawa"]
---
# Xapiri, penjaga politik hutan

H

utan bukan sekadar latar. Davi Kopenawa mengulanginya dengan desakan yang meresap ke dalam halaman-halaman kisahnya: ia adalah tubuh hidup, diberkahi kesadaran politiknya sendiri. Peringatan yang ia sampaikan kepada kaum kulit putih bukanlah metafora puitis, melainkan pesan yang dibawa oleh entitas nyata, para [xapiri](https://viasophia.org/lexique/xapiri/). Roh-roh ini, jauh dari sekadar tokoh cerita rakyat, bertindak sebagai penjaga aktif keseimbangan dunia. Keberadaan mereka sendiri merupakan bentuk perlawanan epistemik, pengetahuan yang hidup dan menantang lupa sistematis para penguasa.

Menurut Davi Kopenawa, kaum kulit putih memandang rendah ucapan-ucapan ini karena mereka tak mengenal [xapiri](https://viasophia.org/lexique/xapiri/) dan peran mereka. Pikiran mereka, katanya, dipenuhi lupa, seolah hutan hanyalah gudang sumber daya yang bisa dieksploitasi. Namun, para dukun Yanomami tahu bahwa roh-roh ini bukanlah rekaan, melainkan sekutu nyata dalam perjuangan mempertahankan wilayah. Mereka berbicara atas nama manusia, juga atas nama hutan itu sendiri, yang kehancurannya setara dengan perang terhadap subjek politik tersendiri. Kedaulatan yang dimaksud di sini bukanlah milik negara atau batas-batas, melainkan dunia di mana makhluk nonmanusia—pohon, hewan, roh—memiliki otoritas sah atas keberadaan mereka sendiri.

Davi Kopenawa menekankan satu hal krusial: [xapiri](https://viasophia.org/lexique/xapiri/) bukan simbol, melainkan pelaku. Kehadiran mereka terwujud dalam ritual, mimpi, lukisan tubuh, dan terutama dalam kemampuan para dukun untuk memanggil mereka guna melindungi hutan. Roh-roh ini tak sekadar mewakili alam; mereka adalah pembelanya langsung, mampu bertindak melawan mereka yang mengancamnya. Pengetahuan mereka bukan folklor, melainkan ilmu yang fungsional, sains ketergantungan yang luput dari kategori Barat. Dalam hal ini, pemikiran Yanomami menawarkan alternatif radikal: politik di mana hutan bukan objek yang harus dikelola, melainkan subjek yang harus didengarkan.

Wilayah Yanomami, seperti digambarkan Davi Kopenawa, jauh lebih dari sekadar ruang geografis. Ia adalah medan pertempuran epistemik, tempat pengetahuan asli melawan pemusnahan. Peta yang ia sebut—dengan toponimi dalam bahasa Yanomami, batas-batas *Terra Indígena*—bukan sekadar representasi. Mereka adalah jejak kedaulatan lain, di mana tanah tak dimiliki manusia, melainkan manusia yang menjadi bagian dari tanah. Para [xapiri](https://viasophia.org/lexique/xapiri/), sebagai roh, mewujudkan hubungan ini: mereka adalah penjamin dunia di mana hutanlah yang berhak menentukan.

> Wilayah Yanomami di Brasil (Terra Indígena Yanomami) Situasi Terra Indígena Yanomami Peta rinci Terra Indígena Yanomami (toponimi dalam bahasa Portugis) Peta rinci toponimi utama dalam bahasa Yanomami Lokasi suku-suku yang disebutkan
>
> — **Davi Kopenawa**, *La Chute du ciel*, livre La Chute du ciel. éd. menurut terjemahan Prancis Bruce Albert, Plon, coll. Terre humaine, 2010.

Kekuatan pemikiran ini terletak pada penolakannya memisahkan spiritual dari politik. Bagi Davi Kopenawa, penghancuran hutan bukan sekadar bencana ekologis, melainkan serangan terhadap tatanan kosmik. Xapiri bukan perantara pasif: mereka campur tangan, menghukum, melindungi. Keberadaan mereka sendiri adalah tantangan terhadap antroposentrisme kaum kulit putih, yang meyakini dapat menguasai alam tanpa menanggung akibatnya. Dengan meninggalkan "lukisan" kata-katanya—jejak tertulis yang akan bertahan melebihi usianya—Davi Kopenawa bertindak sebagai penghubung. Ia tahu bahwa generasi mendatang mungkin akan memahami bahwa hutan tak pernah diam.

Pandangan dunia ini mengajukan pertanyaan mendasar: bagaimana jika perlawanan paling efektif terhadap kehancuran bukan hanya hukum atau aktivisme, melainkan epistemik? Xapiri, sebagai roh, menawarkan cara lain memikirkan kedaulatan. Mereka mengingatkan bahwa hutan bukan barang yang bisa dimiliki, melainkan subjek yang harus dihormati. Ucapannya, yang disampaikan melalui para dukun, adalah bentuk diplomasi nonmanusia, negosiasi abadi antara dunia-dunia. Dalam hal ini, Davi Kopenawa tak sekadar mengecam kelalaian kaum kulit putih: ia mengusulkan cara lain menghuni bumi, di mana politik dimulai dari mendengarkan.

*[Une voix de l'intérieur]* Davi Kopenawa, dukun dan juru bicara Yanomami, menulis dari posisi yang terpaut: seorang manusia yang telah menyaksikan kaumnya dan hutannya terancam oleh perluasan garis depan perambah. *La Chute du ciel* adalah buah dialog dengan antropolog Bruce Albert, namun suara yang terungkap tetaplah miliknya. Teks Prancis adalah terjemahan, penafsiran ulang, namun urgensi dan ketepatan ucapannya adalah warisan pengetahuan asli yang ditransmisikan secara lisan. Di sini, tepi bukan ruang sunyi, melainkan tempat berkembangnya pemikiran yang melawan.

## Hutan sebagai subjek politik

Gagasan "subjek politik" memperoleh makna yang sama sekali berbeda dalam tulisan Davi Kopenawa. Baginya, hutan bukan objek perdebatan, melainkan pelaku tersendiri, yang hak-haknya dipertahankan oleh xapiri. Roh-roh ini bukan alegori: mereka bertindak, berbicara, menghukum. Keberadaan mereka sendiri menggugat anggapan bahwa politik hanyalah urusan manusia. Dalam hal ini, pemikiran Yanomami bersinggungan—tanpa menyamainya—dengan beberapa refleksi kontemporer tentang hak alam, namun dengan perbedaan mendasar: xapiri bukan konsep hukum, melainkan kekuatan hidup.

Davi Kopenawa menekankan bahwa kaum kulit putih, dengan mengabaikan roh-roh ini, kehilangan pengetahuan esensial. Kelalaian mereka bukan sekadar ketidaktahuan, melainkan kekerasan epistemik. Dengan menolak mendengarkan xapiri, mereka juga menolak mendengar hutan. Padahal, bagi Yanomami, hutan adalah makhluk peka, yang penghancurannya setara dengan pembunuhan. Ritual perang yang disebutkan dalam teks—di mana pembunuhan, bahkan ritual, menimbulkan utang kepada roh—menunjukkan betapa kekerasan terhadap kehidupan dibatasi, dikendalikan, dan selalu dapat diperbaiki. Tak demikian halnya dengan kaum kulit putih, yang kehancurannya tak berbatas dan tanpa penyesalan.

Perbedaan persepsi inilah yang menjadi inti perlawanan Yanomami. Xapiri bukan penjaga pasif: mereka adalah penjamin tatanan di mana hutan berhak membela diri. Ucapannya, yang disampaikan melalui para dukun, adalah bentuk diplomasi kosmik, negosiasi abadi antara dunia kasatmata dan tak kasatmata. Dalam hal ini, Davi Kopenawa tak sekadar mengutuk kehancuran: ia mengusulkan cara lain memikirkan politik, di mana kedaulatan bukan soal batas, melainkan hubungan.

## Tulisan sebagai tindakan perlawanan

Davi Kopenawa tahu bahwa kata-katanya mungkin tak akan didengar semasa hidupnya. Namun, ia mempercayakannya kepada tulisan, seperti menanam benih untuk generasi mendatang. "Lukisan" ini—istilahnya penting—bukan sekadar kata, melainkan jejak pemikiran yang hidup. Mereka ditujukan bagi mereka yang, suatu hari, akan memahami bahwa hutan tak pernah sekadar latar, melainkan subjek politik tersendiri.

Tulisan ini sendiri adalah tindakan perlawanan. Dengan membekukan pemikiran yang secara tradisional ditransmisikan secara lisan ke dalam bentuk tertulis, Davi Kopenawa menantang lupa. Ia tahu bahwa kaum kulit putih, dengan hukum dan peta mereka, berusaha menghapus pengetahuan asli. Namun, xapiri tak bisa direduksi menjadi diam. Kehadiran mereka, meski tak kasatmata, terus bertindak. Dalam hal ini, *La Chute du ciel* bukan sekadar kesaksian: ia adalah senjata epistemik, cara untuk mengatakan bahwa hutan, meski terancam, belum mengucapkan kata terakhir.

## Sumber

- Davi Kopenawa, *La Chute du ciel* — Plon, coll. Terre humaine, 2010, alih bahasa Bruce Albert (propos yanomami recueillis et traduits)


Sumber kanonik : https://viasophia.org/id/reenchanter/2026-10-19-xapiri-sentinelles-politiques-foret/
