---
title: "George Kanahele: *Aloha ʻĀina* sebagai Etika Kedaulatan Relasional"
sousTitre: "Ketika tanah menjadi landasan perlawanan budaya Kanaka-ʻŌiwi"
description: "George Kanahele, pemikir Kanaka-ʻŌiwi, menafsirkan kembali *aloha ʻāina* bukan sekadar ikatan emosional terhadap tanah, melainkan etika politik dan spiritual yang mendasari kedaulatan berakar pada timbal-balik. Melalui *Ku Kanaka Stand Tall Search for Hawaiian Values*, ia mengkritik habis konsep kepemilikan tanah Barat dan mengajukan visi di mana tanah—sebagai makhluk hidup dan memori kolektif—menuntut untuk dilindungi, bukan dimiliki. Esai potret ini menelusuri bagaimana suara pribumi kontemporer ini merajut perlawanan budaya dengan pengembalian makna hubungan terhadap yang hidup."
date: 2026-09-30
lang: id
tradition: kanaka-oiwi
auteurs: ["George Kanahele"]
---
# George Kanahele: *Aloha ʻĀina* sebagai Etika Kedaulatan Relasional

G

George Kanahele melihat bahwa hubungan orang Kanaka-ʻŌiwi dengan tanahnya tak dapat direduksi menjadi soal kepemilikan atau hak hukum. Baginya, kedaulatan sejati lahir dari tanggung jawab kolektif terhadap wilayah yang melampaui individu. Tanggung jawab ini, tertanam dalam sejarah panjang dan kosmologi bersama, mengubah tanah menjadi makhluk tersendiri—pemegang ingatan, kehidupan, dan kekuatan spiritual. Kanahele menekankan bahwa pandangan ini bertolak belakang dengan gagasan Barat tentang kepemilikan tanah, di mana bumi dijadikan komoditas yang dapat diperjualbelikan. Bagi orang Kanaka-ʻŌiwi, tanah bukan milik siapa pun: manusialah yang menjadi miliknya, dan ikatan inilah yang mendasari etika timbal-balik.

## Tanah sebagai warisan spiritual, bukan properti

George Kanahele menegaskan bahwa orang Kanaka-ʻŌiwi masa kini memikul tanggung jawab khusus terhadap tanahnya—bukan karena sertifikat kepemilikan, melainkan karena mereka adalah pewaris spiritual dan leluhur. Tanggung jawab ini tak diukur dalam hektar atau persentase kontrol lahan, melainkan dalam tindakan pelestarian dan pewarisan. Baginya, orang Kanaka-ʻŌiwi adalah penjaga wilayah yang merangkum kehidupan, perjuangan, dan pencapaian nenek moyang. Tanah bukan sekadar ruang geografis: ia adalah wadah sejarah kolektif, ingatan hidup yang memberinya nilai tak ternilai.

Kanahele mengingatkan bahwa konsepsi tanah sebagai makhluk relasional ini sama sekali berbeda dengan konsep kepemilikan pribadi. Dalam pemikiran tradisional Kanaka-ʻŌiwi, tak seorang pun dapat mengklaim kepemilikan atas suatu tempat, apalagi menjualnya sebagai barang dagangan. Tanah dipandang sebagai anugerah para dewa, ruang suci yang manusia hanyalah pengelolanya. Pandangan ini menuntut hubungan kepercayaan: generasi sekarang bertugas menjaga tanah atas nama leluhur, diri mereka sendiri, dan generasi mendatang. Kanahele mengutip pernyataan yang dinisbatkan kepada Kamehameha III, yang merangkum etika ini: keabadian tanah bergantung pada ketulusan mereka yang mengembannya.

## *Aloha ʻāina*: etika politik dan spiritual

Bagi George Kanahele, *aloha ʻāina* bukan sekadar perasaan sayang terhadap tanah. Ia adalah etika politik, komitmen untuk membela wilayah dari logika perampasan dan eksploitasi. Kanahele menganalisis bagaimana konsep ini dimobilisasi dalam gerakan perlawanan, terutama yang muncul di sekitar pulau Kahoʻolawe. Gerakan yang digerakkan aktivis Kanaka-ʻŌiwi ini menggunakan *aloha ʻāina* sebagai pengungkit untuk menyadarkan pentingnya perlindungan sumber daya alam dan pelestarian nilai-nilai budaya. Menurut Kanahele, mobilisasi ini berhasil menyebarluaskan visi di mana tanah bukan sekadar latar, melainkan aktor sentral dalam identitas dan kedaulatan Kanaka-ʻŌiwi.

Kanahele mencatat bahwa gerakan ini berhasil menarik [*perhatian*](https://viasophia.org/lexique/attention/) media dan menjangkau khalayak jauh melampaui kepulauan Hawaii, termasuk di luar negeri. Meski tujuan dan metodenya menuai perdebatan, pesannya menemukan gaung khusus karena bersandar pada nilai yang tertanam kuat dalam budaya Kanaka-ʻŌiwi: cinta dan penghormatan terhadap tanah. Kanahele menekankan bahwa politisasi *aloha ʻāina* ini tidak dikritik, karena ia sejalan dengan logika pembelaan sah atas wilayah dan nilai-nilai yang diwakilinya. Baginya, gerakan ini menunjukkan bagaimana etika tradisional dapat menjadi alat perlawanan kontemporer tanpa dianggap sebagai instrumentalisasi budaya.

## Tanah sebagai tempat identitas dan ingatan

George Kanahele juga menelusuri cara orang Kanaka-ʻŌiwi secara historis menandai wilayahnya dengan nama, cerita, dan nyanyian. Baginya, praktik penamaan tempat ini bukan sekadar kebiasaan: ia memberi identitas pada setiap jengkal tanah, menghubungkannya dengan sejarah dan makna. Kanahele mengutip karya folkloris dan ahli bahasa untuk menunjukkan bahwa orang Kanaka-ʻŌiwi menamai segalanya—dari ladang talas hingga batu suci, dari tempat memancing hingga lokasi berkumpul. Setiap nama adalah cara mengingat peristiwa, legenda, atau kehadiran leluhur, dan mengukirkannya dalam ingatan kolektif.

Kelimpahan nama ini mengungkapkan hubungan intim antara orang Kanaka-ʻŌiwi dan tanahnya. Kanahele menegaskan bahwa praktik ini bertolak belakang dengan masyarakat modern, di mana tempat sering direduksi menjadi koordinat geografis atau ruang anonim. Bagi orang Kanaka-ʻŌiwi, menamai tempat berarti memberinya martabat, menjadikannya terlihat dalam narasi besar geografi sakral. Kanahele menarik paralel dengan orang Māori di Selandia Baru, yang hubungannya dengan tanah sama mendalamnya. Baginya, orang Māori memandang tanah sebagai tempat "berdiri tegak", ruang yang merangkum warisan leluhur dan identitas mereka. Kanahele bertanya-tanya apakah orang Kanaka-ʻŌiwi kontemporer dapat kembali menemukan koneksi intim ini dengan wilayahnya, meski telah terjadi gejolak sejarah dan budaya.

  
    The older generation, in particular, recognize an almost mystical connection between land and personal standing." A Sense of Place 183 When a Maori speaks of land, it is as a place to "stand on," symbolizing the totality of his ancestral heritage back to the arrival of the canoes coming to Aotearoa and from beyond, from Kahiki, as this heritage is embodied in his being and self-identity.
  
  Generasi yang lebih tua, khususnya, merasakan ikatan yang hampir mistis antara tanah dan kedudukan pribadi. Ketika seorang Māori berbicara tentang tanah, ia seolah berbicara tentang tempat untuk "berdiri tegak"—simbol dari keseluruhan warisan leluhurnya, yang merentang sejak kedatangan perahu ke Aotearoa dan bahkan lebih jauh lagi, dari Kahiki, warisan yang terwujud dalam diri dan identitasnya.

*[Suara dari dalam]* George Kanahele, pemikir Kanaka-ʻŌiwi, merumuskan dalam *Ku Kanaka Stand Tall Search for Hawaiian Values* sebuah refleksi tentang hubungan antara masyarakat adat dan tanahnya. Kutipan di sini, yang menggambarkan pandangan Māori tentang tanah sebagai tempat berpijak identitas, dikutip oleh Kanahele untuk menggambarkan konsepsi serupa yang dianut oleh berbagai budaya Oseania. Terjemahan ke dalam bahasa Prancis merupakan hasil karya rumah yang setia pada semangat teks asli.

## Kedaulatan sebagai timbal-balik, bukan kontrol

George Kanahele mengajukan redefinisi kedaulatan, yang tidak didasarkan pada kontrol atau dominasi, melainkan pada timbal-balik. Baginya, kedaulatan sejati Kanaka-ʻŌiwi lahir dari hubungan hormat dan tanggung jawab terhadap tanah. Pandangan ini bertentangan secara radikal dengan logika kolonial, yang mengubah tanah menjadi sumber daya untuk dieksploitasi atau barang untuk dimiliki. Kanahele mengingatkan bahwa orang Kanaka-ʻŌiwi selalu memandang tanah sebagai makhluk hidup, yang memiliki agensi sendiri. Membela tanah berarti membela bagian dari diri, ingatan kolektif, dan identitas budaya.

Kanahele menekankan bahwa etika timbal-balik ini memiliki implikasi politik konkret. Ia menuntut pemikiran ulang tentang tata kelola, hubungan dengan lembaga negara, dan proyek pembangunan. Baginya, kedaulatan tidak dinyatakan begitu saja: ia dibangun melalui tindakan nyata—pelestarian, pewarisan, dan perlawanan. Kanahele melihat gerakan seperti yang terjadi di Kahoʻolawe sebagai contoh kedaulatan dalam aksi, di mana pembelaan terhadap tanah menjadi tindakan perebutan kembali budaya dan politik.

## Penutup: Mengembalikan makna hubungan dengan yang hidup

George Kanahele menawarkan visi di mana tanah bukan sekadar latar, melainkan aktor sentral dalam sejarah dan identitas Kanaka-ʻŌiwi. Karyanya mengajak untuk memikirkan kembali hubungan dengan wilayah bukan dalam kerangka kepemilikan, melainkan dalam kerangka timbal-balik dan tanggung jawab. Bagi Kanahele, *aloha ʻāina* bukan konsep abstrak: ia adalah etika yang hidup, yang menuntut orang Kanaka-ʻŌiwi masa kini untuk membela tanahnya seperti membela bagian dari diri sendiri. Pandangan ini, yang bersifat politik sekaligus spiritual, menawarkan alternatif terhadap logika dominasi dan eksploitasi, serta membuka jalan bagi kedaulatan yang berakar pada penghormatan terhadap yang hidup.

## Sumber

- George Kanahele, *Ku Kanaka Stand Tall Search for Hawaiian Values* — University of Hawaiʻi Press, 1986, alih bahasa texte original en anglais (chercheur kanaka ʻōiwi nommé) ; rendu français maison


Sumber kanonik : https://viasophia.org/id/reenchanter/2026-09-30-george-kanahele-aloha-aina-comme/
