---
title: "Kedaulatan sebagai Tanggung Jawab Relasional"
sousTitre: "Pelajaran dari Hirini Moko Mead tentang seni merawat"
description: "Hirini Moko Mead, pemikir Māori kontemporer, mendefinisikan kembali kedaulatan bukan sebagai kekuasaan atas sesama, melainkan sebagai kewajiban untuk melindungi dan mengangkat martabat semua makhluk melalui tindakan nyata dalam merawat. Renungan tentang nilai-nilai yang menyusun hubungan antarmanusia dan non-manusia dalam pemikiran Māori."
date: 2026-07-24
lang: id
tradition: maori
auteurs: ["Hirini Moko Mead"]
---
# Kedaulatan sebagai Tanggung Jawab Relasional

K

Ketika berbicara tentang kedaulatan, imajinasi Barat kerap memunculkan gambaran kekuasaan, batas yang harus dipertahankan, hierarki yang harus dipertahankan. Hirini Moko Mead, dalam eksplorasinya tentang nilai-nilai Māori, menawarkan pandangan yang sepenuhnya berbeda: kedaulatan sebagai tanggung jawab yang mengikat, kewajiban untuk menjaga ikatan yang menyatukan semua makhluk, baik manusia maupun non-manusia. Konsepsi ini tidak sekadar merumuskan etika; ia mewujud dalam praktik sehari-hari, ritual, dan tindakan yang memulihkan serta memelihara keseimbangan relasi.

Menurut Hirini Moko Mead, kewajiban yang muncul dari pandangan ini bukanlah hal yang abstrak. Ia terwujud dalam momen-momen tertentu, seperti saat upacara pemakaman, di mana kerabat diharuskan mendukung seluruh prosesnya. Ritual-ritual ini bukan sekadar formalitas; mereka adalah kesempatan untuk menegaskan kembali ikatan yang rapuh, untuk memeliharanya melalui kehadiran yang aktif. Kehadiran anggota komunitas, keterlibatan fisik dan emosional mereka, memegang peran sentral: hal ini menunjukkan bahwa ikatan tersebut bermakna, bahwa ia layak untuk dipelihara. Tuntutan ini tidak terbatas pada hubungan kekerabatan biologis. Ia meluas kepada mereka yang, melalui pengalaman bersama, menjadi seperti keluarga, serta tempat-tempat yang sarat kenangan, seperti ruang-ruang leluhur tempat upacara tersebut berlangsung.

Hirini Moko Mead mengamati bahwa logika relasional ini bertumpu pada nilai dasar: kepedulian terhadap sesama. Kepedulian ini bukan sekadar sopan santun atau kemurahan hati yang bersifat sementara. Ia menuntut perhatian terus-menerus terhadap cara kita memperlakukan orang lain, kewaspadaan agar tidak menyakiti, agar tidak merusak keseimbangan pertukaran. Dalam pertemuan-pertemuan, misalnya, tuan rumah harus memastikan setiap tamu disambut, diberi makan, dan dapat pulang dengan tenang. Bahkan dalam situasi di mana ketegangan mungkin muncul—seperti konflik atau upaya rekonsiliasi—nilai ini memandu tindakan agar hubungan tidak memburuk. Kontribusi yang diberikan dalam acara-acara tersebut, baik berupa materi maupun simbol, sering kali dipandang sebagai pemberian tanpa harapan imbalan langsung. Namun, di balik kemurahan yang tampak itu, tersembunyi logika yang lebih dalam: timbal balik yang tertunda, di mana pemberian yang diterima mengikat penerimanya untuk membalasnya suatu hari nanti, dalam bentuk yang berbeda.

  
    Reciprocal obligations are very important Ngā Āhuatanga o te Tikanga Māori in public events of this sort.
  
  Kewajiban timbal balik memegang peranan yang sangat penting dalam *Ngā Āhuatanga o te Tikanga Māori* pada acara-acara publik semacam ini.

*[Suara dari dalam]* Hirini Moko Mead, pemikir Māori kontemporer, mengeksplorasi dalam *Tikanga Maori Living By Maori Values* nilai-nilai yang menyusun hubungan antarmanusia dan non-manusia. Terjemahan kutipan dalam bahasa Prancis merupakan hasil terjemahan rumah yang setia pada semangat teks asli.

Bagi tuan rumah, menyelenggarakan acara semacam itu merupakan tantangan besar. Mereka harus menyeimbangkan tuntutan materi dengan kewajiban untuk merawat para peserta. Persiapan selama berbulan-bulan diperlukan guna memastikan nilai ini terpenuhi. Kesalahan, meski tidak disengaja, dapat meninggalkan jejak yang mendalam, bukan pada acara itu sendiri, melainkan pada cara acara tersebut diterima. Kritik dalam konteks ini tidak tertuju pada detail teknis, melainkan pada ketidakmampuan untuk memenuhi kewajiban relasional tersebut. Hirini Moko Mead menekankan bahwa pertemuan-pertemuan ini bukan sekadar perayaan; mereka adalah momen di mana kohesi komunitas dipertaruhkan, di mana kekuatan ikatan yang menyatukan mereka ditegaskan kembali.

Pandangan tentang kedaulatan sebagai tanggung jawab relasional ini mengajak kita untuk memikirkan kembali hubungan kita dengan kekuasaan. Ia menyarankan bahwa otoritas tidak diukur dari kemampuan untuk mendominasi, melainkan dari kemampuan untuk merawat. Ia mengingatkan bahwa hubungan, baik antarmanusia maupun dengan dunia non-manusia, adalah hal yang rapuh dan membutuhkan komitmen yang terus-menerus. Dalam hal ini, pemikiran Hirini Moko Mead menawarkan jalan untuk menghidupkan kembali cara kita menghuni dunia: bukan dengan berusaha mengendalikannya, melainkan dengan belajar merawatnya, dengan rendah hati dan ketekunan.

## Sumber

- Hirini Moko Mead, *Tikanga Maori Living By Maori Values* — Huia Publishers, 2003, alih bahasa rendu français maison (œuvre en anglais, courtes citations attribuées)


Sumber kanonik : https://viasophia.org/id/reenchanter/2026-07-24-souverainete-comme-responsabilite-relationnelle/
