---
title: "Sebuah Mata Rantai dalam Jejak"
sousTitre: "Bagi Leanne Betasamosake Simpson, penulis michi saagiig nishnaabeg, satu kata—kobade—menyebut sekaligus kakek-nenek buyut dan cicit: tiada yang berada di ujung garis keturunan, masing-masing hanyalah mata rantai, yang menggenggam dan digenggam."
description: "Kobade, kata dalam bahasa nishnaabemowin yang diangkat oleh Leanne Betasamosake Simpson (michi saagiig nishnaabeg): satu istilah untuk kakek-nenek buyut dan cicit—sebuah mata rantai dalam jejak generasi, menghadap ke depan. Memberi lebih dari yang diambil, demi kobade yang akan datang."
date: 2026-07-03
lang: id
tradition: nishnaabeg
auteurs: ["Leanne Betasamosake Simpson"]
---
# Sebuah Mata Rantai dalam Jejak

Ia membayangkan lengannya merangkul cucu-cucunya, dan lengan mereka merangkul cucu-cucu mereka. Leanne Betasamosake Simpson, penulis michi saagiig nishnaabeg, mencari kata untuk gerak itu yang melintasi zaman—dan bahasanya memiliki satu. Apa yang dalam bahasa Prancis diungkapkan dengan kalimat panjang, dalam nishnaabemowin hanya butuh tiga suku kata: *kobade*.

  
    kobade is a word we use to refer to our great-grandparents and our great-grandchildren. It means a link in a chain—a link in the chain between generations, between nations, between states of being, between individuals.
  
  kobade adalah kata yang kami gunakan untuk menyebut kakek-nenek buyut dan cicit kami. Ia berarti sebuah mata rantai—mata rantai dalam jejak generasi, antara bangsa-bangsa, antara keadaan-keadaan makhluk, antara individu.

Simpson mendapatkannya dari tetua Edna Manitowabi. Keanehan kata itu langsung terasa begitu ditimbang: satu istilah menyebut sekaligus mereka yang mendahului tiga generasi dan mereka yang mengikuti tiga generasi. Leluhur dan anak cucu disebut dengan nama yang sama. Di mana bahasa Prancis memisahkan—leluhur di satu sisi, keturunan di sisi lain, dua kata untuk dua arah—kobade justru menyatukan kedua ujungnya. Siapa yang berbicara bukan berada di akhir garis keturunan; ia hanyalah mata rantai, terjepit di antara dua genggaman. *I am a link in a chain. We are all links in a chain*—aku adalah mata rantai dalam jejak, kita semua adalah mata rantai dalam jejak.

Kata itu tak berhenti pada ikatan manusia. Simpson menyebut bangsanya *a long kobade, cycling through time*—sebuah kobade panjang yang berputar melintasi waktu: jalinan ikatan yang terpaut pada bangsa-bangsa tumbuhan, bangsa-bangsa hewan, sungai-sungai, danau-danau, kosmos. Jejak itu merentang ke dua arah dan melampaui spesies; menjadi mata rantai berarti digenggam oleh apa yang bukan diri sendiri.

*[Suara dari dalam]* Leanne Betasamosake Simpson (lahir 1971), penulis, akademisi, dan musisi michi saagiig nishnaabeg, memikirkan bangsanya dari dalam, dalam bahasa Inggris, bahasa tulisnya. Kata *kobade*, ia peroleh dari tetua Edna Manitowabi: “menurut Simpson”, “menurut tetua yang dikutipnya”, bukan “orang Nishnaabeg berkata”. Sebuah kata nishnaabemowin yang dihadiahkan, bukan rahasia yang digali.

Dari gambaran ini muncul kewajiban, dan ia condong ke depan. Jika aku adalah mata rantai, tugasku bukan memandangi jejak di belakangku, melainkan meneruskannya ke depan: *we should give more than we take*—kita harus memberi lebih dari yang kita ambil—agar kobade yang akan datang tetap bertahan dan berkembang. Masa lalu tak lagi sekadar warisan yang harus dijaga; ia menjadi utang yang dibayar ke depan, kepada wajah-wajah yang tak akan pernah kita lihat.

## Apa itu kobade?

Kobade adalah kata dalam bahasa nishnaabemowin yang, menurut Leanne Betasamosake Simpson yang mengutip tetua Edna Manitowabi, berarti “sebuah mata rantai dalam jejak”. Ia menyebut dengan satu istilah kakek-nenek buyut dan cicit—kedua ujung yang dihubungkan oleh kehidupan—lalu, dengan perluasan makna, seluruh garis keturunan dan bangsa sebagai jejak yang berputar melintasi waktu, terjalin dengan semua makhluk. Bukan sekadar kekerabatan dalam arti sempit, bukan silsilah: cara untuk menyadari diri sebagai mata rantai, yang digenggam dan menggenggam.

Mari bandingkan dengan kosakata kita sendiri, bukan untuk merendahkannya, melainkan untuk mengukur jarak. Kita punya “leluhur” dan “keturunan”: dua kata, dua arah, dan di antaranya subjek yang berdiri di tengah seolah dari pos pengamatan. Kita punya “silsilah”, pohon yang merentang ke belakang—daftar siapa yang berasal dari siapa, menghadap ke hulu. Kobade melakukan sebaliknya, dan dalam dua hal. Ia menolak pemisahan: satu nama untuk dua ujung, karena ikatan yang sama melaluinya. Dan ia condong ke hilir: mata rantai lebih penting karena apa yang disalurkannya daripada apa yang diterimanya. Bahasa kita menjadikan garis keturunan sebagai warisan yang diinventarisasi; nishnaabemowin menjadikannya jejak yang harus direntangkan.

Masih ada pertanyaan yang diajukan kata itu tanpa memberikan jawaban. Ketika kita memikirkan mereka yang akan datang seratus tahun lagi—anak cucu dari anak cucu kita, yang tak seorang pun di antara kita akan merangkulnya—adakah kita memiliki kata untuk mengatakan bahwa mereka sudah menjadi bagian dari kita?.

---

**À lire aussi**

- [La terre qui enseigne](https://viasophia.org/reenchanter/2026-06-15-la-terre-qui-enseigne/)
- [Biiskabiyang](https://viasophia.org/reenchanter/2026-06-11-biiskabiyang/)
- [Le don qui circule](https://viasophia.org/reenchanter/2026-06-13-minidewak-le-don/)

## Sumber

- Leanne Betasamosake Simpson, *As We Have Always Done: Indigenous Freedom through Radical Resistance* — University of Minnesota Press, 2017, alih bahasa texte original anglais ; rendu français maison


Sumber kanonik : https://viasophia.org/id/reenchanter/2026-07-03-un-maillon-dans-la-chaine/
