---
title: "Tubuh Negeri"
sousTitre: "Bagi David Mowaljarlai, tetua ngarinyin dari Kimberley, benua ini bukan hamparan yang dibagi-bagi: ia adalah Bandaiyan, satu tubuh hidup yang terbaring telentang, dan kita adalah organ-organ di dalamnya."
description: "David Mowaljarlai, tetua ngarinyin: Bandaiyan, benua sebagai satu tubuh hidup — Corpus Australis. Melawan peta yang menjadikannya sekadar permukaan untuk dibagi."
date: 2026-06-15
lang: id
tradition: ngarinyin
auteurs: ["David Mowaljarlai"]
---
# Tubuh Negeri

Di atas buku sketsa, lelaki tua itu menggambar kontur Australia, lalu mengisinya dengan garis-garis rapat yang mengingatkan pada anyaman bubu udang. Ia meletakkan pensil. Dengan tangannya, ia pura-pura mengangkat kisi-kisi itu, seperti mengelupas sehelai kertas—dan yang ditunjukkannya bukan lagi peta datar, melainkan sebuah benua dalam tiga dimensi, sebuah volume yang bisa dipegang dalam lekuk telapak tangan. David Mowaljarlai, tetua dan pemegang hukum ngarinyin dari Kimberley, menatap dari balik kacamatanya yang bercoreng untuk memastikan kita benar-benar melihat. Negeri bukanlah permukaan. Ia adalah tubuh.

  
    The whole of Australia is Bandaiyan. The front we call wadi, the belly-section, because the continent is lying down flat on its back. It is just sticking out from the surface of the ocean.
  
  Seluruh Australia adalah Bandaiyan. Bagian depannya, kami sebut *wadi*, bagian perut, karena benua ini terbaring telentang di atas punggungnya. Ia nyaris tidak menonjol dari permukaan samudra.

Bukan sekadar gambaran puitis yang ditumpangkan pada lanskap. Ini adalah anatomi. Mowaljarlai menyebut wilayah-wilayah negeri seperti menyebut bagian-bagian tubuh: puncaknya di utara—Tanjung York, Tanah Arnhem, Kimberley—adalah kepala, *ulangun*; di bawah Teluk Carpentaria terletak paru-paru; tulang rusuk adalah sisi-sisinya, bagian iga yang melintasi benua di atas pusar; dan pusarnya, pusatnya, adalah Uluru. *We think of Bandaiyan in those terms, as a human body*—kami memikirkan Bandaiyan dalam istilah-istilah itu, sebagai tubuh manusia. Geografi bukan latar tempat makhluk hidup berpijak: ia adalah daging dari satu makhluk hidup, dan kita masing-masing adalah organ di dalamnya.

*[Une voix de l'intérieur]* David Mowaljarlai (sekitar 1925–1997), tetua dan pemegang hukum ngarinyin dari Kimberley, adalah salah satu yang pertama membawa hukumnya "dua sisi"—hukumnya sendiri dan hukum para pendatang baru—ke luar. *Yorro Yorro* adalah dialog yang ia lakukan bersama fotografer Jutta Malnic; kata-kata yang dikutip adalah miliknya. "Menurut Mowaljarlai", bukan "orang Aborigin berkata": ia berbicara tentang *hukumnya*, yang ia bagi dengan tetangganya, suku Worora dan Wunambal, bukan "Australia Aborigin" sebagai satu kesatuan.

Di dalam tubuh itu, ada sesuatu yang mendorong kehidupan ke luar. *Inside the body is Wunggud, the Snake. She grows all of nature on the outside of her body*—di dalam tubuh terdapat Wunggud, Sang Ular; ia menumbuhkan seluruh alam di permukaan tubuhnya. Benua ini bukan wadah mati yang dipenuhi makhluk-makhluk terpisah: ia adalah tubuh yang menumbuhkan kehidupan di permukaannya seperti kulit yang ditumbuhi. Dan tubuh ini terikat oleh garis-garis. Kisi-kisi yang digambar Mowaljarlai bukan sekadar hiasan: kotak-kotaknya adalah wilayah komunitas, dengan bahasa dan simbol masing-masing, dan garis-garisnya adalah jalan yang dilalui cerita dari ujung ke ujung negeri. *They are all interconnected*, katanya—semuanya saling terhubung. Satu tubuh, dilalui oleh urat saraf.

Dari situlah muncul kata yang mengejutkan di bibirnya. Di atas tubuh ini, kata Mowaljarlai, manusia tidak tinggal sebagai pemilik atau penonton: mereka bertindak sebagai satu tubuh yang utuh.

  
    We think along these lines, but we know only Bandaiyan. On this we interact as a corporation. It is intact.
  
  Kami berpikir menurut garis-garis itu, tapi kami hanya mengenal Bandaiyan. Di atasnya, kami berinteraksi sebagai satu tubuh yang utuh. Ia tetap utuh.

Kata dalam bahasa Inggris yang digunakannya, *corporation*, menyimpan makna Latin *corpus*, tubuh. Mowaljarlai bahkan memberi subjudul babnya sendiri *Corpus Australis*: tubuh Australia. Namun, antara pemakaiannya dan pemahaman kita, jurangnya sangat lebar, dan harus ditegaskan sebelum membuat perbandingan. Bagi kita, "korporasi", "tubuh" politik, hanyalah metafora: tubuh sosial, tubuh negara, cara berbicara tentang kumpulan manusia. Tubuh tetaplah gambaran; negeri, bagi kita, tetaplah tanah yang diukur, dibatasi, dan dimiliki. Mowaljarlai membalik urutannya. Tubuh bukan metafora—negeri itulah yang menjadi metafora bagi kita ketika kita meratakannya menjadi peta. Korporasinya mencakup batu, ular, seluruh alam; kita bukan anggotanya, melainkan organnya.

Itulah sebabnya cara kita memandang benua ini, baginya, benar-benar kehilangan dimensi. Peta meratakan negeri di atas kertas dan membaginya menjadi petak-petak; ia mengangkat kertas itu dan mengembalikan volume pada negeri. Di mana kita membaca hamparan—sumber daya, wilayah, lingkungan yang mengelilingi kita—ia membaca tubuh yang tak bisa kita tinggalkan: kita tidak mungkin berada *di luar* sesuatu yang menampung kita.

Dan tubuh itu tetap ada bahkan tanpa kita. Ketika ada yang keberatan dengan daerah-daerah yang tak lagi dihuni, yang tak lagi ada yang meneruskan tradisi, Mowaljarlai menepisnya dengan satu kata.

*[Bandaiyan ≠ Yorro Yorro]* Meski sama-sama tetua, dua kata, dua poros. [Yorro Yorro](https://viasophia.org/lexique/yorro-yorro/) menunjuk waktu: penciptaan sebagai masa kini yang terus berlangsung, "segala sesuatu tegak, hidup". *Bandaiyan* menunjuk ruang: negeri sebagai satu tubuh. Waktu yang tak berkesudahan dan tempat yang menjadi tubuh—dua sisi dari hukum yang sama, tak boleh dicampuradukkan.

*The land remained, you can’t get away from that. It acts for the people and their imprint is still there*—negeri tetap ada, tak bisa dihindari; ia bertindak bagi manusia, dan jejak mereka masih tertinggal. Tubuh itu *utuh*: kehidupannya tidak bergantung pada kehadiran kita. Di mana kita menganggap tanah hidup hanya jika dihuni, digunakan, diberdayakan—dan kosong, karenanya bisa diambil, jika tidak—Mowaljarlai berpendapat bahwa negeri bertindak dengan sendirinya, bahwa simbol-simbol tetap terukir di tanah meski tenggelam di bawah samudra. Bukan kehadiran kita yang menghidupkan tubuh; tubuhlah yang menopang kita.

Lalu tersisa satu pertanyaan yang gambarnya biarkan terbuka, tanpa memutuskannya untuk kita. Ketika kita memandang peta negeri sendiri, apakah yang kita lihat adalah permukaan untuk dibagi—atau punggung tubuh yang bernapas, dan kita adalah salah satu organnya?

## Sumber

- David Mowaljarlai, *Yorro Yorro* — Magabala Books, éd. revue et augmentée, 2014 (avec Jutta Malnic), alih bahasa texte original anglais ; rendu français maison


Sumber kanonik : https://viasophia.org/id/reenchanter/2026-06-15-bandaiyan-corps-pays/
