---
title: "Bumi yang Terkenang"
sousTitre: "Sekali seumur hidup, tulis N. Scott Momaday, seseorang harus memusatkan pikirannya pada bumi yang terkenang — menyerahkan diri pada satu lanskap, memandangnya dari segala sudut, berlama-lama di sana, menghuninya melalui ingatan."
description: "The remembered earth*, ungkapan penulis Kiowa N. Scott Momaday: bumi yang dipegang oleh ingatan, kata, dan imajinasi — bukan latar yang dilalui, melainkan lanskap yang diserahkan sepenuhnya."
date: 2026-06-10
lang: id
tradition: kiowa
auteurs: ["N. Scott Momaday"]
---
# Bumi yang Terkenang

Sebuah bukit sunyi menjulang dari dataran Oklahoma, di barat laut pegunungan Wichita. *A single knoll rises out of the plain in Oklahoma* — demikianlah pembukaan *The Way to Rainy Mountain* (1969). Bagi bangsanya, suku Kiowa, tulis N. Scott Momaday, bukit itu adalah penanda kuno: mereka menamainya Rainy Mountain, Gunung Hujan. Momaday kembali ke sana pada suatu Juli, setelah kematian neneknya, Aho, yang lahir ketika kebudayaan Kiowa di padang rumput memasuki hari-hari terakhirnya. Dari sana, ia menelusuri kembali—dalam pikiran dan perjalanan—jejak yang tiga abad silam dilalui leluhurnya dengan arah berlawanan: turun dari dataran tinggi Montana, dari hulu Sungai Yellowstone, menuju padang selatan, tempat mereka menjadi bangsa yang, seperti tertulis dalam prolog, telah “mengandung gagasan baik tentang diri mereka sendiri”—*they had dared to imagine and determine who they were*, mereka berani membayangkan dan menentukan siapa diri mereka. Di akhir buku singkat yang menjalin mitos, sejarah, dan kenangan itu, muncul kalimat yang merangkumnya.

  
    Once in his life a man ought to concentrate his mind upon the remembered earth, I believe. He ought to give himself up to a particular landscape in his experience, to look at it from as many angles as he can, to wonder about it, to dwell upon it. He ought to imagine that he touches it with his hands at every season and listens to the sounds that are made upon it. He ought to imagine the creatures there and all the faintest motions of the wind. He ought to recollect the glare of noon and all the colors of the dawn and dusk.
  
  Sekali seumur hidup, aku percaya, seseorang harus memusatkan pikirannya pada bumi yang terkenang. Ia harus menyerahkan diri pada satu lanskap tertentu dari pengalamannya, memandangnya dari sebanyak mungkin sudut, merenungkannya, berlama-lama di sana. Ia harus membayangkan dirinya menyentuhnya dengan tangan di setiap musim, dan mendengarkan suara-suara yang terdengar di sana. Ia harus membayangkan makhluk-makhluk yang menghuninya, hingga gerak angin yang paling halus sekalipun. Ia harus mengingat kembali terik siang dan segala warna fajar serta senja.

Setiap kata dalam petuah ini terasa berat. *Sekali seumur hidup*: bukan kebiasaan, melainkan sebuah tindakan—sesuatu yang menjadi utang pada suatu tempat, seperti hutang yang harus dibayar. *Satu lanskap tertentu*: bukan alam secara umum, bukan Bumi seluruhnya; sebuah bukit yang tepat, sebuah sungai yang tepat, ladang di belakang rumah yang tepat. Lalu rangkaian kata kerja yang seolah latihan: memusatkan, menyerahkan diri, memandang, merenung, berlama-lama, membayangkan, mendengarkan, mengingat. [Bumi yang terkenang](https://viasophia.org/lexique/remembered-earth/) bukanlah latar samar yang tersisa di dasar ingatan: ia adalah hasil kerja, dilakukan musim demi musim, sudut demi sudut, oleh ingatan dan imajinasi yang berpadu. Kita tidak memilikinya hanya dengan melintasinya. Kita menyerahkan diri padanya—*give himself up*: gerakannya adalah penyerahan.

*[Suara dari dalam]* N. Scott Momaday (1934–2024), suku Kiowa, adalah penulis Pribumi Amerika Serikat pertama yang menerima Penghargaan Pulitzer (1969, untuk *House Made of Dawn*). *The Way to Rainy Mountain* ditulis dalam bahasa Inggris, bahasa tulisnya: seorang Kiowa menceritakan bangsanya sendiri, tanpa perantara asing. Terjemahan Prancis di sini adalah hasil karya rumah, sebagaimana ditandai.

Mengapa ingatan, bukan sekadar pandangan? Karena bagi Momaday, bumi dan gagasan yang dibentuk suatu bangsa tentang dirinya diikat oleh kata. Jalan menuju Rainy Mountain, tulisnya di pembukaan, pertama-tama adalah *the history of an idea, man's idea of himself*—sejarah sebuah gagasan, gagasan manusia tentang dirinya sendiri—, dan gagasan itu “memiliki keberadaan kuno dan esensial dalam bahasa”. Perjalanan yang diceritakannya, katanya, dilakukan *with the whole memory*, dengan seluruh ingatan—“pengalaman batin yang sama legendarisnya dengan sejarah, sama pribadinya dengan budaya”. Tiga suara berselang-seling di setiap halaman: mitos yang diceritakan para sesepuh, fakta yang dicatat sejarah, kenangan sang cucu. Tak satu pun cukup sendiri. Bumi yang terkenang adalah apa yang dipertahankan oleh ketiga suara itu bersama-sama: *a landscape that is incomparable, a time that is gone forever, and the human spirit, which endures*—sebuah lanskap tiada tara, sebuah zaman yang telah berlalu selamanya, dan semangat manusia, yang bertahan.

Harus dipahami betapa tajam kalimat ini bagi seorang Kiowa kelahiran 1934. Kebudayaan padang rumput—kuda, bison, Tarian Matahari—hanya mekar seabad sebelum dihancurkan: kawanan dibantai, tarian terakhir dilarang oleh tentara. Ketika Momaday menulis, hampir semuanya telah sirna; namun hampir semuanya, catatnya, *within the reach of memory still, though tenuously now*—masih dalam jangkauan ingatan, meski kini begitu rapuh. Di epilog, seorang perempuan berusia seratus tahun, Ko-sahn, duduk di bawah emper rumah Aho dan menceritakan Tarian Matahari yang disaksikannya semasa kecil. Bumi yang terkenang, karenanya, bukanlah lamunan seorang penulis: ia adalah sisa dunia ketika yang tersisa hanyalah kata—dan bukti bahwa kata cukup untuk menegakkannya, asalkan dikumpulkan dan dijadikan milik kembali.

  
    Loneliness is an aspect of the land. All things in the plain are isolate; there is no confusion of objects in the eye, but one hill or one tree or one man. To look upon that landscape in the early morning, with the sun at your back, is to lose the sense of proportion. Your imagination comes to life, and this, you think, is where Creation was begun.
  
  Kesepian adalah salah satu wajah bumi ini. Segala sesuatu di padang rumput berdiri sendiri; tak ada kerumunan benda dalam pandangan—sebuah bukit, sebatang pohon, seorang manusia. Memandang lanskap ini di pagi buta, matahari di punggung, adalah kehilangan rasa proporsi. Imajinasi kita hidup, dan di sinilah, pikir kita, Penciptaan bermula.

Kita pun menyimpan lanskap—ribuan. Namun harus memilih sebelum bisa mendekatkan. Gambar-gambar kita diabadikan untuk disimpan di luar diri: foto merekam tempat atas nama kita, dan justru membebaskan kita dari kerja yang dipesankan Momaday. Ia dilihat; ia tidak diulang. Bumi yang terkenang, sebaliknya, tak tersimpan di mana pun: ia hanya ada selama sebuah batin menelusurinya kembali—menyentuhnya di setiap musim, mendengarkannya, berlama-lama di sana—, dan mati bersama orang yang berhenti membawanya, kecuali jika kata meneruskannya. Dan hubungan kepemilikan pun terbalik: lanskap yang diarsipkan adalah milik kita, di antara ribuan lainnya; pada lanskap yang terkenang, kitalah yang menjadi miliknya, karena kita telah menyerahkan diri padanya. Yang tersisa hanyalah titik temu yang sempit: di sini maupun di sana, sebuah tempat dapat menjadi bagian dari diri. Di halaman terakhir pengantar, di depan makam neneknya, Momaday hanya menulis: *Looking back once, I saw the mountain and came away*—sekali menoleh ke belakang, kulihat gunung itu, lalu pergi. Ia boleh pergi: gunung itu telah terkenang. Sekali seumur hidup, katanya. Lanskap mana, bagi setiap orang, yang layak menerima kerja itu?

## Sumber

- N. Scott Momaday, *The Way to Rainy Mountain* — University of New Mexico Press, 1969 (éd. de poche 1976), alih bahasa texte original anglais ; rendu français maison


Sumber kanonik : https://viasophia.org/id/reenchanter/2026-06-10-remembered-earth/
