---
title: "Alam sebagai subjek: tiga suara, satu ambang"
sousTitre: "Dominasi, timbal-balik, pelarutan — yang tak terpikirkan dari dualisme"
description: "Antara budak instrumen hidup Aristoteles, sistem relasional Descola yang tunduk pada properti ontologis, dan mekarnya kekosongan dalam ajaran Dōgen, alam terbentang sebagai objek penguasaan, subjek hak, atau ilusi yang harus dilampaui. Tiga usulan yang radikal berbeda, yang pertemuannya mengungkap bukan sekadar pertentangan, melainkan sebuah ambang: di mana dualisme itu sendiri menjadi pertanyaan."
date: 2026-08-30
lang: id
tradition: undefined
auteurs: ["Aristoteles", "Philippe Descola", "Dōgen"]
---
# Alam sebagai subjek: tiga suara, satu ambang

Tak satu pun istilah mampu menampung alam tanpa mereduksinya. Objek, subjek, aliran — kategori-kategori ini hanyalah jejak pikiran yang terbentur padanya, atau larut di dalamnya. Tiga usulan tegak di sini, tak tereduksi: yang pertama menjadikan alam sebagai instrumen yang sah, yang kedua sebagai jaringan properti yang disematkan pada keberadaan, yang terakhir sebagai mekarnya kekosongan tempat diri sirna. Masing-masing membawa ontologi, hubungan dengan dunia, etika. Tak satu pun dapat diserap oleh yang lain. Namun, sekadar penempatannya berdampingan memunculkan pertanyaan yang melampaui ketiganya: pertanyaan tentang dualisme sebagai ambang, sebagai batas yang harus dilintasi atau dilarutkan.

## Alam sebagai instrumen hidup: legitimasi penguasaan

> Seperti halnya budak adalah instrumen hidup; dan karena kota dan negara tidak dapat hidup tanpa instrumen-instrumen yang tak tergantikan, perbudakan adalah sah, perbudakan adalah alami, sama seperti perolehan barang-barang yang diperlukan untuk hidup.
>
> — **Aristote**, *La Politique*, livre Politik. éd. menurut terjemahan bahasa Prancis Jules Barthélemy-Saint-Hilaire, edisi ke-3 direvisi dan dikoreksi, Paris, 1874 (Gallica/BnF).

Alam bukanlah mitra, melainkan sarana. Ia menyatu dengan barang-barang yang dibutuhkan kota untuk bertahan, dan barang-barang itu, pada gilirannya, menyatu dengan instrumen yang memungkinkan perolehannya. Budak di sini bukanlah metafora: ia adalah paradigma hubungan manusia dengan sekelilingnya. Instrumen hidup, yakni alat yang bernapas, yang mungkin menderita, tetapi penderitaannya bukanlah alasan untuk tidak menggunakannya. Justru sebaliknya, penderitaan adalah syaratnya: alat yang tak menderita bukanlah makhluk hidup, dan karenanya tak sepenuhnya efektif.

Usulan ini bukan sekadar membenarkan perbudakan. Ia mendasari ontologi di mana alam adalah sesuatu yang dapat dimiliki, digunakan, diubah. Budak bukanlah manusia lain, melainkan *jenis* manusia lain, yang hakikatnya adalah untuk melayani. Kota, dalam pengertian ini, bukanlah kontrak antara sesama, melainkan hierarki alami di mana setiap unsur menemukan tempatnya. Barang-barang yang diperlukan untuk hidup bukanlah anugerah, melainkan perolehan yang sah, karena alam, sebagai kesatuan sumber daya, ada untuk diambil.

Dalam kerangka ini, timbal-balik tak mungkin terjadi. Alam tak memiliki hak, karena ia tak memiliki kehendak. Ia bukan subjek, melainkan wadah potensi yang harus diwujudkan. Manusia adalah yang mewujudkannya. Rasionalitasnya bukan sekadar sifat di antara sifat-sifat lain, melainkan prinsip yang membedakan pelaku dari instrumen. Penguasaan bukanlah pilihan, melainkan keharusan: tanpanya, kota akan runtuh. Dan jika kota adalah alami, maka penguasaan pun demikian.

Suara ini tak menawarkan etika, melainkan logika. Ia tak berkata: *"alam harus dikuasai"*, tetapi: *"alam adalah sesuatu yang dapat dikuasai, dan penguasaan ini sah karena ia alami"*. Dualisme bukanlah masalah, melainkan kenyataan. Manusia dan alam adalah dua kutub yang berbeda, dan hubungan mereka asimetris secara hakiki. Pertanyaannya bukan apakah asimetri ini adil, melainkan apakah ia *perlu*. Bagi Aristoteles, memang demikian.

## Alam sebagai sistem properti: ontologi sebelum relasi

> Maka, perlu melepaskan diri dari prasangka sosiosentrisme dan bertaruh bahwa realitas sosiologis — sistem relasional yang stabil — secara analitis tunduk pada realitas ontologis — sistem properti yang disematkan pada keberadaan.
>
> — **Philippe Descola**, *Par-del nature et culture*. éd. menurut edisi asli bahasa Prancis.

Di sini, alam bukan lagi objek, melainkan sekumpulan properti. Ia bukan yang berlawanan dengan manusia, melainkan yang mendahuluinya, landasan dari mana relasi-relasi terbentang. Dualisme bukanlah kenyataan, melainkan prasangka — yang menganggap masyarakat dan alam sebagai dua ranah terpisah, padahal keduanya hanyalah efek dari ontologi yang sama.

Descola tak menawarkan etika timbal-balik, melainkan metode. Ia tak berkata: *"alam memiliki hak"*, tetapi: *"sistem relasional yang kita amati bergantung pada properti yang kita sematkan pada keberadaan"*. Properti-properti ini bukan esensi, melainkan cara memotong dunia. Sebatang pohon bukan objek mati, melainkan makhluk yang disematkan kualitas — kehidupan, pertumbuhan, agency — yang kemudian menentukan relasi yang terjalin dengannya.

Penundukan realitas sosiologis pada realitas ontologis adalah pembalikan. Artinya, hukum, adat, institusi bukanlah yang utama, melainkan turunan. Mereka tak menciptakan kategori, melainkan produknya. Dengan demikian, alam bukanlah yang berlawanan dengan budaya, melainkan yang memungkinkannya. Ia bukan wadah sumber daya, melainkan jalinan properti yang menyusun interaksi.

Usulan ini tak menyangkal dualisme, melainkan menggesernya. Ia tak berkata: *"manusia dan alam adalah satu"*, tetapi: *"pembedaan antara manusia dan alam adalah konstruksi di antara konstruksi lain, dan konstruksi ini bergantung pada properti yang disematkan pada keberadaan"*. Alam bukan subjek hak, melainkan medan properti yang dapat — atau tidak — diperlakukan demikian. Timbal-balik bukan kewajiban moral, melainkan kemungkinan ontologis.

Descola tak menawarkan peleburan, melainkan dekonstruksi. Bukan soal meniadakan perbedaan, melainkan menempatkannya di mana ia muncul: dalam sistem properti yang disematkan. Alam bukan mitra, melainkan jaringan potensi relasional. Dan potensi-potensi ini bukanlah pemberian, melainkan konstruksi.

## Alam sebagai mekarnya kekosongan: pelarutan diri

> Bunga-bunga Kekosongan: Genjōkōan Dōgen dengan Komentar Yasutani Roshi. Boston: Shambhala Publications, 1997.
>
> — **Dōgen**, *dogen-shobogenzo-treasury-true-dharma-eye-tanahashi*, livre Shōbōgenzō, ch. Genjōkōan. éd. dari Flowers of Emptiness: Dōgen’s Genjōkōan dengan Komentar Yasutani Roshi. Boston: Shambhala Publications, 1997.

Di sini, alam bukan objek, bukan sistem properti, melainkan mekar. Istilah "alam" sendiri sudah terlalu sarat, terlalu dualistik. Ia mengandaikan pemisahan antara yang mengamati dan yang diamati, padahal bagi Dōgen, pemisahan itu adalah ilusi. *Genjōkōan* — manifestasi realitas — bukan keadaan yang harus dicapai, melainkan realitas itu sendiri, sebagaimana ia terbentang setiap saat.

Kutipan ini kosong, tetapi kekosongan itu bukan ketiadaan. Ia adalah syarat mekarnya bunga. "Bunga-bunga Kekosongan" bukan objek, melainkan peristiwa — kemunculan yang tak dimiliki siapa pun, bahkan oleh yang memandangnya. Diri bukan subjek di hadapan alam, melainkan fiksi yang sirna dalam aliran fenomena.

Usulan ini tak menyangkal alam, melainkan melampauinya. Ia tak berkata: *"alam adalah subjek"*, tetapi: *"pembedaan antara subjek dan objek adalah kesalahan perspektif"*. Dualisme bukan soal relasi, melainkan persepsi. Tak ada manusia di satu sisi dan alam di sisi lain, melainkan satu gerak, satu napas, di mana segala sesuatu sekaligus pelaku dan yang dikenai, pengamat dan yang diamati.

Dōgen tak menawarkan etika, melainkan praktik. Bukan soal menghormati alam, melainkan larut di dalamnya. Timbal-balik bukan persekutuan, melainkan identitas. Diri bukan mitra, melainkan ilusi yang harus dilampaui. Alam bukan yang lain, melainkan tempat di mana keakuan tercerai-berai.

Suara ini tak berusaha mendamaikan manusia dan alam, melainkan menunjukkan bahwa pemisahan mereka adalah konstruksi mental. Ia tak menawarkan ontologi baru, melainkan pengalaman: di mana dualisme sirna, kategori-kategori larut, subjek dan objek menjadi satu.

## Ambang dualisme: tiga usulan, satu pertanyaan

Ketiga suara ini tak saling menjawab. Bahkan tak saling bertentangan, karena mereka berbicara pada tataran yang berbeda. Yang satu mendasari logika penguasaan, yang lain metode dekonstruksi, yang terakhir praktik pelarutan. Namun, penempatannya berdampingan memunculkan pertanyaan bersama: pertanyaan tentang dualisme sebagai ambang.

Bagi Aristoteles, dualisme adalah kenyataan. Manusia dan alam adalah dua kutub yang berbeda, dan hubungan mereka asimetris secara hakiki. Alam adalah sesuatu yang dapat dimiliki, digunakan, diubah. Ia tak memiliki hak, karena ia tak memiliki kehendak. Penguasaan bukan pilihan, melainkan keharusan.

Bagi Descola, dualisme adalah prasangka. Ia bukan data, melainkan konstruksi, yang bergantung pada properti yang disematkan pada keberadaan. Alam bukan objek, melainkan jaringan potensi relasional. Timbal-balik bukan kewajiban moral, melainkan kemungkinan ontologis.

Bagi Dōgen, dualisme adalah ilusi. Ia bukan soal relasi, melainkan persepsi. Diri bukan subjek di hadapan alam, melainkan fiksi yang sirna dalam aliran fenomena. Alam bukan yang lain, melainkan tempat di mana keakuan tercerai-berai.

Ketiga usulan ini tak bertemu. Tak saling melengkapi. Tak membentuk sintesis. Namun, pertemuan mereka mengungkap sesuatu yang lain: sebuah ambang. Di mana dualisme itu sendiri menjadi pertanyaan. Bukan sebagai kesalahan yang harus diperbaiki, melainkan sebagai batas yang harus dilintasi, atau dilarutkan.

Aristoteles tak berusaha melampaui dualisme, melainkan mendasarinya. Descola tak berusaha meniadakannya, melainkan mendekonstruksinya. Dōgen tak berusaha mendamaikannya, melainkan melarutkannya. Namun, dalam ketiga kasus, dualisme adalah yang dipertaruhkan. Yang dipertanyakan, ditentang, atau dilampaui.

Alam bukan objek, bukan subjek, bukan aliran. Ia adalah yang berdiri *di antara* usulan-usulan ini. Yang memungkinkan mereka, dan yang melampaui mereka. Ia adalah ambang di mana dualisme terungkap sebagai pertanyaan itu sendiri — yang mendahului segala jawaban, ontologi, praktik.

Dan barangkali di situlah, pada ambang itu, ketiga suara ini bertemu tanpa menyatu: dalam gagasan bahwa alam bukanlah apa yang dikatakan tentangnya, melainkan yang memungkinkan apa yang dikatakan tentangnya. Bahwa ia bukan objek yang dikuasai, bukan subjek yang dihormati, bukan aliran yang dilarutkan, melainkan yang berdiri *di luar* kategori-kategori itu. Yang mendahului, dan yang melampaui mereka.

*[dualisme]* Dualisme bukanlah jawaban, melainkan pertanyaan. Pertanyaan yang diajukan berbeda-beda: apakah ia didasari, didekonstruksi, atau dilarutkan. Namun, dalam ketiga kasus, pertanyaan itu tetap terbuka.

## Sumber

- Aristote, *La Politique* — 3e éd. revue et corrigée, Paris, 1874 (Gallica/BnF), alih bahasa Jules Barthélemy-Saint-Hilaire
- Philippe Descola, *Par-del nature et culture* — 
- Dōgen, *dogen-shobogenzo-treasury-true-dharma-eye-tanahashi* — 


Sumber kanonik : https://viasophia.org/id/essais/2026-08-30-nature-comme-sujet-trois-voix/
