---
title: "Menghuni Wilayah yang Akan Hilang: Kerapuhan dan Ketahanan Samudra"
sousTitre: "Dua suara bagi kelangsungan tanpa batas"
description: "Antara adaptasi terhadap puing-puing kapitalisme yang digambarkan Anna Tsing dan kedaulatan kepulauan yang dirayakan Epeli Hauʻofa, renungan tentang cara menghuni dunia-dunia yang rapuh. Bukan viktimisasi, bukan pula pasrah, melainkan perhatian terhadap kekuatan yang tumbuh dari celah—tempat kerapuhan menjadi lahan subur, dan samudra, ruang persambungan alih-alih pemisah."
date: 2026-09-21
lang: id
tradition: transversal
auteurs: ["Anna Tsing", "Epeli Hau'ofa"]
---
# Menghuni Wilayah yang Akan Hilang: Kerapuhan dan Ketahanan Samudra

Sebuah wilayah yang akan hilang bukanlah ruang kosong. Ia dilintasi oleh kekuatan yang meruntuhkannya dan kekuatan lain yang menyusunnya kembali. Dua suara terdengar untuk membicarakannya—satu dari puing-puing kapitalisme, satu lagi dari samudra luas. Mereka tidak saling menjawab, namun jarak di antara keduanya justru mengguratkan ketegangan tempat kelangsungan hidup dipertaruhkan.

## Kerapuhan sebagai lahan subur

> Salah satu alasan untuk tetap mengingat kerapuhan adalah karena ia mengingatkan kita bahwa berubah mengikuti keadaan adalah lahan subur bagi kelangsungan hidup.
>
> — **Anna Tsing**, *Le Champignon de la fin du monde*. éd. menurut terjemahan Prancis, tanpa edisi spesifik.

[Kerapuhan](https://viasophia.org/lexique/precarite/) di sini bukanlah keadaan pasif. Ia adalah yang memaksa kita bertransformasi, menyesuaikan diri dengan keadaan tanpa tunduk kepadanya. Tsing tidak menggambarkan dunia tempat kita hanya menerima, melainkan dunia tempat kita berdamai dengan sisa-sisa, tempat kita menumbuhkan bentuk-bentuk kehidupan di sela-sela. Lahan subur bukanlah tanah yang stabil, melainkan campuran puing, spora, serpihan yang bersama-sama memungkinkan sesuatu yang lain tumbuh.

Pandangan ini tidak mengidealisasi [kerapuhan](https://viasophia.org/lexique/precarite/). Ia menjadikannya sebagai kondisi, bukan takdir. Berubah mengikuti keadaan bukanlah penyerahan diri, melainkan cara untuk tetap tegak di tempat struktur-struktur runtuh. Kelangsungan hidup bukan soal perlawanan semata, melainkan adaptasi yang terus-menerus—sebuah tarian dengan apa yang tercerai-berai.

*[Terreau]* **Lahan subur** : kata yang kerap muncul dalam karya Tsing. Ia lebih mengacu pada dekomposisi yang aktif, proses di mana yang mati menyuburkan yang lahir.

## Samudra sebagai ruang persambungan

> aneconomistikdandeterminismegeografisyangmengabaikankultursejarah, proseskontemporerparaahliekspert, lembagapembangunanregionalinternasional, perencanaadministratif, sertabatas-batasekonomiyangditetapkanzamansebelumapoteosisKaptenCook.
>
> — **Epeli Hauʻofa**, *Our Sea Of Islands*. éd. dari *A New Oceania: Rediscovering Our Sea of Islands*, University of the South Pacific, Suva, 1993, hlm. 12-13; dimuat ulang dalam *The Contemporary Pacific* 6/1, 1994" maison nomLangSource="Inggris.

Hauʻofa menolak narasi yang mereduksi pulau-pulau menjadi ruang pinggiran, ditentukan oleh batas-batas ekonomi atau geografis. Baginya, laut bukanlah pembatas, melainkan ruang sirkulasi, ingatan, dan kedaulatan. Pulau-pulau bukan titik terasing, melainkan simpul dalam jaringan samudra tempat terjalin hubungan-hubungan yang mendahului dan melampaui kategori-kategori yang dipaksakan para ahli, perencana, dan lembaga pembangunan.

Yang dipertaruhkan di sini adalah cara lain memikirkan wilayah. Samudra bukanlah kekosongan di antara daratan, melainkan lingkungan hidup, ruang persambungan alih-alih pemisah. Batas-batas yang dibicarakan Hauʻofa bukanlah kodrat: ia diguratkan oleh sejarah dominasi, narasi-narasi yang membekukan pulau-pulau dalam posisi ketergantungan. Melawannya, ia mengajukan visi di mana laut menyatukan, bukan mengasingkan.

*[Apothéose]* **Apoteosis** : kata ini muncul dalam konteks di mana Hauʻofa membicarakan narasi kolonial yang mengubah pulau-pulau menjadi objek penaklukan. Apoteosis Cook bukanlah puncak, melainkan titik balik dalam cara memandang ruang.

## Dua cara menghilang, dua cara bertahan

Kedua suara ini tidak berbicara tentang tempat yang sama, namun keduanya sama-sama [memperhatikan](https://viasophia.org/lexique/attention/) kekuatan yang muncul di tempat struktur-struktur goyah. Tsing memandang [kerapuhan](https://viasophia.org/lexique/precarite/) sebagai lahan subur, Hauʻofa melihat samudra sebagai ruang persambungan. Yang satu bekerja dengan puing-puing, yang lain dengan aliran.

Namun, ada titik temu yang tergurat: keduanya tidak pasrah pada kehilangan. Kerapuhan bukan takdir, melainkan kondisi untuk mencipta. Samudra bukanlah batas, melainkan lingkungan tempat kita bergerak, tempat kita merebut kembali apa yang pernah dipaksakan.

*[Ni victimisation ni résilience]* **Bukan viktimisasi, bukan pula ketahanan** : kedua penulis menghindari jebakan ini. Tsing tidak memuja kerapuhan, Hauʻofa tidak mengabaikan relasi kuasa. Mereka justru menawarkan cara berpikir tentang kelangsungan hidup tanpa terperangkap dalam oposisi biner.

## Yang tumbuh dari celah

Jika kita mengikuti kedua suara ini, menghuni wilayah yang akan hilang bukan sekadar soal perlawanan atau adaptasi. Ia juga soal cara memandang: melihat kemungkinan dalam puing-puing, sambungan dalam aliran, ruang untuk dicipta kembali dalam batas-batas.

Kerapuhan menjadi lahan subur ketika kita bersedia berubah bersama keadaan. Samudra menjadi ruang kedaulatan ketika kita menolak memandangnya sebagai batas. Tak satu pun dari keduanya menawarkan solusi, melainkan cara bertahan—cara yang tidak memisahkan kelangsungan hidup dari transformasi.

## Sumber

- Anna Tsing, *Le Champignon de la fin du monde* — 
- Epeli Hauʻofa, *Our Sea Of Islands* — A New Oceania: Rediscovering Our Sea of Islands, University of the South Pacific, Suva, 1993, p. 12-13 ; repris dans The Contemporary Pacific 6/1, 1994, alih bahasa texte original anglais ; rendu français maison


Sumber kanonik : https://viasophia.org/id/articles/2026-09-21-habiter-territoire-en-voie-disparition/
