---
title: "Harapan: Ilusi atau Perlawanan? Kebenaran Masa Depan Antara Utopia dan Nubuat"
sousTitre: "Dua suara di tepi waktu"
description: "Harapan berdiri di antara dua jurang: antara kekuatan pendorong yang melampaui masa kini, dan tipu daya yang menyamarkan kehancuran. Bloch dan Kopenawa, tanpa pernah bertemu, menggambarkan batas-batas pertanyaan yang sama: bagaimana menghuni masa depan yang belum ada, tanpa tersesat dalam janjinya?"
date: 2026-09-03
lang: id
tradition: transversal
auteurs: ["Ernst Bloch", "Davi Kopenawa"]
---
# Harapan: Ilusi atau Perlawanan? Kebenaran Masa Depan Antara Utopia dan Nubuat

Kata-kata harapan tak pernah ringan. Ia membawa beban masa depan yang belum ada, tapi sudah menekan masa kini. Dua suara—satu dari hutan Amazon, satu lagi dari perpustakaan Eropa—membicarakannya sebagai sesuatu yang sekaligus diperlukan dan berbahaya. Bagi yang satu, harapan adalah apa yang memungkinkan kita melangkah maju; bagi yang lain, ia adalah apa yang menghalangi kita melihat apa yang sudah mulai runtuh. Di antara kedua kutub ini, satu pertanyaan tetap menggelayut: bagaimana mempertemukan janji dan kejatuhan?

## Harapan sebagai kekuatan pendorong

Ada energi dalam harapan yang melampaui sekadar keinginan. Ia bukan sekadar menunggu secara pasif, melainkan ketegangan aktif menuju apa yang belum ada. Masa kini, sebagaimana ia hadir, sudah mengandung benih-benih apa yang akan datang. Tak ada yang beku, tak ada yang tertutup selamanya. Bahkan dalam hal yang tampak paling langsung, paling nyata, sesuatu bekerja, sesuatu terus bergerak.

> Sebaliknya: apa yang mengandung masa depan dalam aktualitas-Sekarang terus berjalan tanpa ampun—melampaui segala bentuk masa lalu—bahkan dalam aktualitas-depan dan segala lingkungannya.
>
> — **Ernst Bloch**, *The Principle of Hope*. éd. dari terjemahan Prancis oleh Jean Lacoste, Gallimard, 1976.

Gagasan tentang masa depan yang sudah hadir, meski belum terlihat, mengubah cara kita memandang dunia. Apa yang ada di hadapan kita bukanlah lembaran kosong, melainkan lanskap yang bergerak, di mana setiap detail membawa jejak apa yang akan datang. Harapan, dengan demikian, bukanlah pelarian dari realitas, melainkan cara lain membaca realitas. Ia bukan penyangkalan terhadap apa yang ada, melainkan penglihatan terhadap apa yang, di dalamnya, menolak penutupan.

Namun, pandangan ini tak lepas dari risiko. Jika masa depan sudah ada dalam benih, ia bisa menjadi alasan untuk tidak bertindak. Mengapa berjuang untuk apa yang toh akan datang? Harapan, jika tak berakar pada masa kini, bisa berubah menjadi penantian kosong, janji yang tak menuntut balasan.

## Harapan sebagai tipu daya

Di sisi lain, ada suara yang berbicara tentang harapan sebagai ilusi. Bukan ilusi dalam arti kesalahan sesaat, melainkan sesuatu yang lebih dalam, lebih berbahaya. Harapan di sini bukanlah apa yang memungkinkan kita maju, melainkan apa yang menutupi realitas kehancuran. Ia adalah apa yang menghalangi kita melihat pintu-pintu yang sudah terbuka menuju apa yang datang—dan yang tak selalu diinginkan.

> Xawarari mae adalah "jalan wujud wabah", xawarari periyoka, "pintu jalan wujud wabah".
>
> — **Davi Kopenawa**, *La Chute du ciel*, § 660. éd. dari terjemahan Prancis oleh Bruce Albert, Plon, coll. Terre humaine, 2010.

Kata-kata Kopenawa tidak secara langsung berbicara tentang harapan, tapi menggambarkannya secara negatif. Yang ia lukiskan adalah jalan-jalan yang mengarah pada penyakit, pada keretakan, pada kejatuhan. Pintu-pintu yang terbuka menuju dunia-dunia yang seharusnya tak ada. Dalam perspektif ini, harapan bukanlah kekuatan pendorong, melainkan selubung. Ia menyembunyikan apa yang sudah mulai terjadi, apa yang sudah mulai hilang.

Namun, bahkan dalam kecurigaan ini, ada bentuk perlawanan. Menolak harapan bukan berarti menyerah pada masa depan. Mungkin itu hanya penolakan untuk dibuai janji-janji yang tak memperhitungkan apa yang sedang retak. Cara untuk tetap berakar pada apa yang ada, tanpa terbawa oleh apa yang mungkin terjadi.

## Puncak yang sama

Kedua suara ini tak pernah bertemu, tapi mereka berbicara tentang hal yang sama: kesulitan mempertemukan masa kini dan masa depan. Bagi Bloch, masa depan sudah ada, bekerja dalam masa kini. Bagi Kopenawa, masa depan adalah ancaman, apa yang terbuka seperti pintu menuju kehancuran. Namun, dalam kedua kasus, ada gagasan bahwa waktu bukanlah garis lurus, melainkan sesuatu yang lebih rumit, lebih rapuh.

Harapan, baik sebagai kekuatan maupun tipu daya, selalu soal cara pandang. Bagaimana melihat apa yang sedang lahir tanpa mengabaikan apa yang sedang mati? Bagaimana melangkah menuju apa yang belum ada tanpa tersandung pada apa yang sudah mulai runtuh?

Mungkin jawabannya tak terletak pada utopia atau nubuat, melainkan pada ketegangan itu sendiri. Pada kemampuan mempertemukan kedua ujung: apa yang melawan dan apa yang runtuh, apa yang berharap dan apa yang melihat. Tanpa pernah lupa bahwa masa depan, apapun bentuknya, selalu soal pilihan. Bukan takdir, melainkan tanggung jawab.

## Sumber

- Ernst Bloch, *The Principle of Hope* — 
- Davi Kopenawa, *La Chute du ciel* — Plon, coll. Terre humaine, 2010, alih bahasa Bruce Albert (propos yanomami recueillis et traduits)


Sumber kanonik : https://viasophia.org/id/articles/2026-09-03-espoir-illusion-resistance-verite-futur/
