---
title: "Akal Instrumental dan Batasannya: Antara Otonomi Manusia dan Penyerahan Diri pada Tatanan Ilahi"
sousTitre: "Ketidakselarasan Teknis dan Harmoni yang Telah Ditentukan"
description: "Akal manusia berayun antara keterasingan oleh alat yang diciptakannya dan pencarian pemahaman langsung akan yang ilahi. Illich menunjuk pada penyimpangan lembaga yang mengubah sarana menjadi tujuan, sementara Averroès menggambarkan akal yang mampu menangkap tatanan ilahi tanpa perantara, namun dalam batas-batas yang tegas. Kedua perspektif ini, meski berbeda pendekatan, bertemu pada satu pertanyaan yang sama: bagaimana manusia dapat menggunakan akalnya tanpa tersesat dalam ilusi keagungannya sendiri?"
date: 2026-07-31
lang: id
tradition: transversal
auteurs: ["Ivan Illich", "Ibnu Rusyd"]
---
# Akal Instrumental dan Batasannya: Antara Otonomi Manusia dan Penyerahan Diri pada Tatanan Ilahi

Akal manusia mengembara di antara dua jurang: alat yang melampauinya dan kebenaran yang hendak diraihnya. Dua suara, satu modern, satu abad pertengahan, menggurat batas-batasnya tanpa pernah mencampuradukkannya. Yang pertama mengecam kesombongan akal yang mengira dirinya pembebas padahal justru menjajah; yang kedua menelusuri batas-batas alaminya, tempat otonomi manusia bersentuhan dengan tatanan ilahi. Membedakan kedua perspektif ini sebelum mencari titik temu di puncaknya berarti menghindari penyederhanaan yang mereduksi yang satu ke yang lain, atau mempertentangkannya tanpa nuansa.

## Akal yang Terasing oleh Alatnya Sendiri

Alat, pada dirinya, tak mengenal baik atau buruk. Ia memperpanjang tangan, mengasah niat, melayani suatu tujuan. Namun ketika sebuah lembaga menjadikannya monopoli, ia berubah sifat tanpa kehilangan hakikatnya. Illich mengatakannya tanpa tedeng aling-aling:

> Monopoli lembaga atas jenis alat yang dapat dipegang ini adalah penyalahgunaan; ia merusak fungsi alat, namun alat itu sendiri tidak berubah hakikatnya, sama seperti pisau pembunuh tetaplah pisau.
>
> — **Ivan Illich**, *La Convivialit*

Alat tetaplah pisau, tetapi penggunaannya menjadi pembunuhan. Akal instrumental, ketika tunduk pada lembaga, tidak kehilangan bentuknya—ia tetaplah sarana—tetapi kehilangan tujuannya. Ia tak lagi melayani manusia, melainkan tatanan yang mengendalikannya. Pisau tidak berubah, tetapi tangan yang memegangnya tak lagi bebas. Keterasingan bukan berasal dari alat itu sendiri, melainkan dari klaim menjadikannya satu-satunya jalan menuju kebebasan. Akal, saat itu, berbalik melawan dirinya: ia mengira membebaskan diri dengan memperbanyak sarana, padahal justru menjadi budak mereka yang menguasainya.

Penyimpangan ini bukan takdir. Ia adalah hasil pilihan, atau penyerahan diri. Alat yang dapat dipegang, ketika disalahgunakan oleh lembaga, menjadi instrumen kekuasaan. Akal, yang seharusnya menggunakannya dengan bijak, malah terperangkap dalam ciptaannya sendiri. Ia tak lagi melihat penyalahgunaan, karena telah menginternalisasi keyakinan bahwa semakin banyak alat berarti semakin banyak kebebasan. Padahal, pisau tetaplah pisau, bahkan di tangan pembunuh. Akal tetaplah akal, bahkan ketika melayani tujuan yang menyangkalnya.

## Akal Menghadapi Tatanan Ilahi

Jika Illich menunjuk kesombongan akal yang buta terhadap batasnya sendiri, Averroès mengeksplorasi dimensi lain: akal yang mampu menangkap yang ilahi, tetapi dalam batas-batas yang tegas. *Fashl al-Maqāl* tidak berbicara tentang alat, melainkan tentang tempat akal manusia dalam ekonomi pengetahuan. Angka-angka di tepi teks Arab, yang dicatat oleh penyunting, mengingatkan bahwa pemikiran ini berakar dalam kerangka yang ketat, di mana setiap kata bermakna:

> — Angka-angka di tepi menunjukkan halaman teks Arab yang disunting oleh M.
>
> — **Averroès (Ibn Rushd)**, *Discours décisif — Accord de la religion et de la philosophie (Faṣl al-maqāl)*, livre Faṣl al-maqāl. éd. berdasarkan terjemahan Prancis oleh Léon Gauthier, edisi Alger, Fontana, 1905 (teks Arab + terjemahan Prancis).

Catatan teknis yang tampak sepele ini mengungkap sesuatu yang lebih dalam: bagi Averroès, akal manusia bukanlah kekuatan otonom dan tak terbatas. Ia bekerja dalam kerangka—teks, tradisi, tatanan yang mendahului dan melampauinya. Angka-angka di tepi bukanlah anotasi sembarangan; mereka merujuk pada naskah asli, pada otoritas yang membingkai pemikiran. Akal bukanlah penguasa: ia menafsir, mengomentari, berusaha memahami, tetapi selalu dalam batas-batas yang telah ditetapkan.

Namun, akal ini tidak pasif. Ia tidak sekadar menerima; ia mempertanyakan, membedakan, berusaha menangkap tatanan ilahi tanpa perantara. Tetapi pencarian ini bukan tanpa batas. Akal manusia, seberapa tajam pun, tak dapat mengklaim menghabisi kebenaran ilahi. Ia dapat mendekatinya, menangkap garis besarnya, tetapi selalu dalam batas harmoni yang telah ditentukan. Angka-angka di tepi mengingatkan: pemikiran tertulis dalam teks, dan teks tertulis dalam tatanan yang lebih luas.

## Puncak Bersama: Akal dan Batasnya

Kedua perspektif ini—Illich dan Averroès—tampak berjauhan. Yang satu bicara tentang alat dan lembaga, yang lain tentang teks dan yang ilahi. Namun, keduanya bertemu pada satu pertanyaan yang sama: bagaimana akal manusia dapat menggunakan kemampuannya tanpa tersesat dalam ilusi keagungannya sendiri?

Bagi Illich, akal tersesat ketika mengira bahwa memperbanyak sarana sama dengan pembebasan. Alat, ketika disalahgunakan oleh lembaga, menjadi jebakan. Akal, saat itu, tak lagi melayani manusia, melainkan tatanan yang mengendalikannya. Ia kehilangan tujuannya, yang seharusnya melayani, bukan menguasai.

Bagi Averroès, akal menghadapi batas-batas alami. Ia dapat menangkap yang ilahi, tetapi selalu dalam batas tatanan yang melampauinya. Angka-angka di tepi teks mengingatkan: pemikiran bergerak dalam kerangka, dan kerangka itu bukan ciptaannya. Akal bukanlah penguasa; ia menafsir, tetapi tidak menciptakan tatanan yang hendak dipahaminya.

Puncak bersama bukanlah sintesis, melainkan ketegangan yang dipertahankan. Akal manusia, untuk tetap setia pada dirinya, harus mengakui batas-batasnya. Ia bukanlah mahakuasa, juga bukan tak berdaya. Ia adalah alat—dalam makna luhurnya—yang harus digunakan dengan kebijaksanaan. Baik menghadapi kesombongan teknis maupun tatanan ilahi, akal harus tetap pada tempatnya: bukan tuan, bukan budak, melainkan pelayan kebenaran yang melampauinya.

Ketegangan ini bukanlah kegagalan, melainkan syarat. Akal yang mengabaikan batasnya menjadi tirani; yang mengabsolutkannya menjadi mandul. Di antara keduanya, terbentang ruang kebijaksanaan: yang tahu membedakan tanpa memisahkan, dan yang, dalam pembedaan itu, menemukan jalan menuju harmoni yang mungkin.

## Sumber

- Ivan Illich, *La Convivialit* — 
- Averroès (Ibn Rushd), *Discours décisif — Accord de la religion et de la philosophie (Faṣl al-maqāl)* — Alger, Fontana, 1905 (texte arabe + trad. française), alih bahasa Léon Gauthier


Sumber kanonik : https://viasophia.org/id/articles/2026-07-31-raison-instrumentale-ses-limites-entre/
