---
title: "Ikatan yang Bertahan"
sousTitre: "Cicero menganggap sahabat sebagai diri yang lain, dan kehilangannya akan merenggut matahari dari dunia. Zhuangzi memandang persahabatan sejati sebagai sesuatu yang justru dingin—dan dari situlah ia abadi. Dua ikatan yang tak terjalin oleh kepentingan."
description: "Bagi Cicero, sahabat adalah diri yang lain; bagi Zhuangzi, persahabatan sejati itu dingin, karenanya langgeng. Dua jalan menuju ikatan yang tak terurai oleh kepentingan."
date: 2026-06-17
lang: id
tradition: transversal
auteurs: ["Cicero", "Zhuangzi"]
---
# Ikatan yang Bertahan

Kata *sahabat* bisa dikenakan pada siapa saja. Ia diberikan kepada mereka yang berbagi waktu ringan, yang membukakan pintu, yang berguna; ia mencakup teman sejenak maupun mereka yang rela mengorbankan nyawa. Seorang Romawi dan seorang Tionghoa, terpisah oleh zaman dan dunia, menolak kelonggaran ini—bukan karena kikir kata, melainkan karena mereka memandang persahabatan sebagai sesuatu yang terlalu luhur untuk disebut sembarangan. Yang tersisa adalah pertanyaan: apa yang membuat sebuah ikatan bertahan ketika segalanya runtuh?

> Persahabatan tak lain adalah keselarasan sempurna dua jiwa dalam hal-hal ilahi dan insani, disertai kebaikan hati dan kasih sayang timbal balik.
>
> — **Cicéron**, *Lélius, ou de l'Amitié*, livre Lélius, atau Tentang Persahabatan, ch. VI. éd. menurut terjemahan Prancis Gallon la Bastide, Œuvres complètes (Le Clerc), Lefèvre, 1821 (Wikisource).

Keselarasan itu, bagi Cicero, tak lahir dari kebutuhan atau perhitungan. Ia, katanya, “berasal dari kodrat, bukan dari kelemahan kita.” Yang menyalakannya adalah kebajikan yang terlihat pada orang lain: “tanpa kebajikan, persahabatan sejati tak mungkin ada.” Jauh dari sekadar mengisi kekosongan, [persahabatan](https://viasophia.org/lexique/amicitia/) semacam itu menyatukan mereka yang telah cukup dengan dirinya—“mereka yang […] tak membutuhkan siapa pun […] justru paling piawai menjalin dan memelihara persahabatan.” Dari situlah ia tak bisa ditawar: “Jika kepentingan yang mengikat persahabatan, maka ketika kepentingan itu berubah, ikatan itu pasti putus. Namun kodrat tak bisa berubah, maka persahabatan sejati abadi.” Begitulah tempatnya dalam hidup—bukan sekadar hiasan, melainkan sesuatu yang tanpanya segalanya redup. Menghilangkannya, tulisnya, sama dengan “merenggut matahari dari dunia.” Sahabat tak berdiri di sampingku: ia adalah bagian dariku, “diri yang lain.”

*[amicitia]* Kata Latin <em>amicitia</em> berasal dari <em>amare</em>, mencintai: “dari cinta lahirlah kata persahabatan,” catat Cicero. Sahabat di sini adalah <em>alter idem</em>, diri yang lain—bukan sekutu yang berguna, melainkan diri kedua tempat kita mengenali diri sendiri.

## Dari mana datangnya persahabatan yang abadi?

Dari apa yang tak berubah. Selama ikatan bertumpu pada keuntungan, ia akan terurai ketika keuntungan itu sirna. Cicero maupun Zhuangzi menempatkan persahabatan sejati di luar kepentingan: pada kebajikan, pada kodrat—landasan yang tahan uji, karena tak ada yang dari luar yang mengikatnya, dan tak ada yang dari luar yang bisa melepaskannya.

Dunia lain, bahasa lain, garis pemisah yang sama. Zhuangzi menggambarkannya melalui sebuah adegan. Di tengah kekalahan sebuah kerajaan, seorang pria yang melarikan diri membuang tongkat kebesaran gioknya—“yang bernilai seribu keping emas”—dan menggendong anaknya yang masih kecil. Mengapa menyelamatkan yang kurang berharga? “Karena kepentingan saja yang mengikatnya pada giok, sementara kodrat yang mengikatnya pada anak.” Dari gambaran ini, sang bijak menarik hukumnya tentang persahabatan.

> Kepentingan adalah ikatan lemah, yang terurai oleh malapetaka. Sedangkan kodrat adalah ikatan kuat, yang tahan segala ujian. Begitu pula persahabatan yang didasari kepentingan, dan persahabatan yang melampaui itu. Orang luhur, meski dingin, menarik; orang biasa, meski hangat, menolak. Ikatan yang tak berdasar mendalam akan terurai sebagaimana ia terbentuk.
>
> — **Tchouang-Tseu**, *Œuvre de Tchoang-tzeu*, livre Karya Zhuangzi, ch. 20. éd. menurut terjemahan Prancis Léon Wieger, Les Pères du système taoïste, 1913 (Wikisource).

Seluruh keanehan ucapan itu terletak pada pembalikan ini: yang dingin menarik, yang hangat menolak. Padahal kita menduga persahabatan diukur dari kehangatannya, Zhuangzi justru melihat dalam kehangatan yang tergesa-gesa itu tanda ikatan yang berlandaskan kepentingan—manis selama keuntungan ada, pahit begitu keuntungan sirna. Persahabatan yang ia sebut melampaui itu tanpa luapan, hampir jauh; ia tak melekat, tak menuntut apa-apa, dan justru karena itulah ia bertahan. Orang bijak, menurutnya, tak mencintai lebih sedikit: ia mencintai tanpa menggenggam.

*[Dua suhu]* Cicero menghangatkan persahabatan hingga melebur—sahabat adalah bagian dari diri, kehilangannya bagaikan malam tanpa matahari. Zhuangzi mendinginkannya hingga melepaskan—ikatan sejati tak menggenggam. Satu kata, dua iklim yang berlawanan: pisahkan dulu sebelum melihat di mana keduanya bertemu.

Pada permukaannya, kedua nasihat itu bertentangan titik demi titik. Yang satu menjadikan sahabat sebagai diri yang lain dan menganggap kehilangannya sebagai kegelapan; yang lain waspada terhadap pelukan dan memuji sikap menahan diri. Cicero menyatukan dua jiwa dalam satu, dengan penuh semangat; Zhuangzi mengendurkan, dan justru kendur itu yang menjaga. Kehangatan kebajikan bersama melawan kesejukan ketidakterikatan: keduanya bukan dua nama untuk persahabatan yang sama, dan mengaburkan salah satunya berarti mengkhianati keduanya.

Namun di balik dua iklim ini, mengalir air yang sama. Tak satu pun dari mereka membiarkan persahabatan bertumpu pada keuntungan. “Kepentingan, begitu berubah, pasti akan memutuskan ikatan yang ia bentuk,” kata si Romawi; “kepentingan adalah ikatan lemah, yang terurai oleh malapetaka,” kata si Tionghoa—hampir kata yang sama, terpisah berabad-abad dan satu benua. Keduanya mencari landasan yang tak goyah bagi ikatan: “kodrat tak bisa berubah” pada yang satu, “kodrat adalah ikatan kuat, yang tahan segala ujian” pada yang lain. Yang tersisa hanyalah satu hal, diucapkan dua kali dengan dua nada: ikatan yang bertahan tak pernah terjalin demi apa yang diberikannya. Si Romawi menghangatkannya dengan kebajikan, si Tionghoa mendinginkannya dari segala kepentingan—dan melalui dua jalan yang berlawanan ini, kita sampai pada ambang yang sama, tempat persahabatan berhenti menjadi pertukaran dan menjadi sesuatu yang tak hilang meski apa yang kita dapat darinya telah sirna.

Dari mereka yang kita sebut sahabat, siapa yang akan tetap ada pada hari ketika kita tak lagi bisa memberi apa-apa, dan mereka pun tak lagi bisa memberi kepada kita? Pertanyaan itu tak menuntut jawaban tegas. Ia hanya menggeser pandangan—dari pelayanan yang kita berikan kepada pribadi yang kita cintai.

---

**À lire aussi**

- [Ce qui force ne dure pas](https://viasophia.org/articles/2026-06-16-ce-qui-force-ne-dure-pas/)
- [Nommer, c'est diviser](https://viasophia.org/articles/2026-06-11-nommer-diviser-tchouang-tseu/)
- [Rien en propre](https://viasophia.org/articles/2026-06-09-rien-en-propre/)
- [Les filons de la joie](https://viasophia.org/articles/2026-06-11-filons-de-la-joie/)

## Sumber

- Cicéron, *Lélius, ou de l'Amitié* — Œuvres complètes (Le Clerc), Lefèvre, 1821 (Wikisource), alih bahasa Gallon la Bastide (https://fr.wikisource.org/wiki/De_l%E2%80%99amiti%C3%A9_(Gallon-la-Bastide))
- Tchouang-Tseu, *Œuvre de Tchoang-tzeu* — Les Pères du système taoïste, Imprimerie de Hien-hien, 1913 (Wikisource), alih bahasa Léon Wieger (https://fr.wikisource.org/wiki/L%E2%80%99%C5%92uvre_de_Tchoang-tzeu)


Sumber kanonik : https://viasophia.org/id/articles/2026-06-17-le-lien-qui-tient/
